Perbedaan di Tengah Kita

Sejak lahir, lebih dari satu identitas telah melekat dalam diri kita. Nama, etnis, agama, sampai identitas fisik membedakan kita dengan manusia lainnya. Kita sudah beragam bahkan dari dalam diri kita sendiri. Seharusnya keberagaman jadi terasa wajar untuk hadir di kehidupan sehari-hari.

Saya sendiri terlahir sebagai seorang perempuan dari pernikahan campuran antara Jawa dan Betawi. Saya juga hidup dan tumbuh di daerah Jawa Barat yang kental dengan budaya Sunda. Saya pernah mengenyam pendidikan di sekolah Islam maupun negeri, bertemu dan berteman dengan orang-orang yang punya tuhan dan adat istiadat serta kebiasaan bermacam-macam. Dan itu membuat hidup saya semakin beragam.

Dalam kegiatan menimba ilmu, pendidikan tentang keberagaman dan kehidupan multikultural telah saya lahap sejak masuk taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Berbagai istilah, teori, konsep, sampai penerapannya dalam kehidupan sehari-hari telah saya dipelajari. Dalam sesi kelas, para pengajar kerap bilang,

“Berteman dengan siapa saja, bukan karena suku, agama, ras, atau kepercayaannya.”

“Keberagaman seharusnya menjadi kekuatan.”

“Toleransi penting untuk diterapkan dalam kehidupan beragama dan sosial.”

“Hanya orang-orang yang tidak berpendidikan saja yang gagap akan perbedaan.”

Saya meyakini kata beliau-beliau yang punya lebih banyak ilmu. Idealisme itu saya genggam dan bawa pergi hampir setiap hari: cita dan harapan untuk menjadi orang yang menghargai dan saling menghormati tiap perbedaan yang ada dalam hidup, walau kenyataannya, sering saya lihat berita tentang kekerasan dan perdebatan yang menimbulkan perpecahan tersiar atas nama persatuan dan kesatuan. Pelakunya banyak dari orang-orang yang berpendidikan.

Di lain waktu, beberapa kerabat bercakap-cakap di ruang tengah saat acara kumpul keluarga dan bilang,

“Jangan menikah dengan orang Sumatra, keras dan pelit perangai mereka.”

“Jangan menikah dengan orang Jawa, meski lembut, mereka lambat dan pemalu.”

“Jangan menikah dengan orang Betawi, mereka hanya bisa bergaya dan ongkang-ongkang kaki.”

“Jangan menikah dengan orang Sunda, selain suka bersolek mereka juga ingin menang sendiri.”

Lalu idealisme yang kerap saya bawa sehari-hari semakin lama semakin menciut, tergerus realitas busuk kehidupan; tempat perbedaan selalu bersarang dan manusia adalah pelaku utama yang melanggengkannya.

Terselip sisa-sisa idealisme yang masih bertahan setengah mati. Mereka tumbuh subur dalam jiwa-jiwa yang percaya keseragaman hanya berakhir menjadi malapetaka; juga pada mereka yang tetap berusaha mewakili suara-suara kecil yang nyaring, kaum-kaum terpinggirkan yang berjuang atas nama hak asasi, juga lewat cara sederhana dengan tetap membuat acara kumpul-kumpul arisan rukun warga.

Pada akhirnya, ini semua hanya akan menjadi bias sudut pandang tentang sejauh mana keberagaman ada di sekeliling kita serta apa cara-cara terbaik untuk menyikapinya. Tapi tetap saya percaya, bahwa tidak ada satu pun manusia yang menyukai perpecahan atas dasar apa pun.

Dalam sebuah artikel berjudul “Importance of humanity” dikatakan bahwa, “humanity means caring for and helping others whenever and wherever possible. Humanity means helping others at times when they need that help the most, humanity means forgetting our selfish interests at times when others need our help. Humanity means extending unconditional love to each and every living being on Earth.”

Bumi ini isinya masih manusia kan? Jika begitu, walau ada beberapa yang telah hilang akal, saya rasa perilaku kemanusiaan seperti mengasihi dan menyayangi antara manusia satu dengan manusia yang lain tidak akan pernah hilang dari muka bumi, sekalipun selalu ada perbedaan-perbedaan di tengah kita yang jadi batasannya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top