Pembajak yang Beredar di Daratan

Qarun terkubur bersama kesombongan dan harta bendanya ke dalam perut bumi. Dengan sigap para pembajak ulung memburu hartanya sampai ke tengah samudra. Apakah harta Qarun di laut sudah tidak bersisa sehingga para pembajak pulang ke daratan dan mulai membajak ide para seniman dalam bentuk gambar, tulisan, serta suara?

“Harap tenang. Negara sedang khusyuk membaca buku bajakan” adalah unggahan Joko Pinurbo di Instagram yang menyadarkan saya bahwa lagi-lagi kasus pembajakan menyeruak ke permukaan. Semua bermuara pada unggahan Tere Liye dari akun Facebook pribadi miliknya tentang pembajakan buku yang sebenarnya merupakan gaung-gaung lanjutan dari apa yang sudah beliau dan para pekerja seni lain perjuangkan sejak lama. Sebelumnya, J.S. Khairen, seorang penulis, mengunggah video berjudul “Menelepon Pembajak Buku” di kanal YouTube-nya sebagai tanggapan dan unjuk kekesalan kepada para pembajak karyanya. Selain itu, Fiersa Besari lewat video “Membedakan Buku Bajakan” juga sudah secara jelas memaparkan perbedaan buku asli dan palsu serta memberikan penjelasan tentang pentingnya membeli buku orisinal. Tak hanya dalam dunia kepenulisan, Monty Tiwa, seorang sutradara, pun mengungkapkan kejengkelannya kepada pelaku pembajakan film lewat video singkat yang beliau unggah di Instagram

Jika kembali melihat pada sejarah, pembajakan sudah ada sejak lama. Hukum hak cipta dibuat untuk menangkal kegiatan pembajakan yang mulanya berfokus pada karya sastra. Di Indonesia sendiri, hukum tentang hak cipta sudah jelas tertulis dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014, lengkap dengan sanksi bagi para pelanggarnya. Tapi suara seniman yang menuntut perlindungan karyanya adalah bukti bahwa negara dan masyarakat belum berhasil mencitapkan ekosistem hukum yang berkeadilan. Putusan pengadilan empat belas bulan penjara untuk pelaku pembajakan film Keluarga Cemara hanyalah satu langkah kecil yang berhasil dilakukan dan menunjukkan keseriusan kita dalam melindungi hak para pekerja seni. Masih perlu waktu dan langkah yang panjang untuk bisa memberantasnya secara tuntas.

Sebenarnya sudah banyak, kok, alternatif lain yang bisa kamu pilih untuk menikmati karya penulis yang kamu sukai. Mereka bahkan akan jauh lebih senang ketika melihat kamu menabung atau meminjam bukunya lewat berbagai kanal yang saat ini ada ketimbang membeli karyanya tetapi bajakan. Sekarang juga sudah ada layanan Over The Top (OTT) resmi yang menyediakan beragam format hiburan dengan harga terjangkau, bahkan banyak dari mereka yang memberikannya dengan cuma-cuma. 

Jadi tidak ada lagi alasan untuk melanggengkan pembajakan. Alasan ekonomi hanya menjadi lingkaran setan bagi pelaku dan penikmat yang sama-sama terlena. Jika kamu saja tidak senang hati ketika ada seseorang yang menyerobot antrean, apalagi para pekerja seni yang telah mencurahkan malam-malam panjangnya dengan keringat untuk melahirkan sebuah karya. Bukan hanya mereka, mengonsumsi karya hasil pembajakan juga sama saja dengan memutus rantai kehidupan opas yang bekerja di perusahaan penerbitan, cleaning service di studio rekaman, dan tukang gulung kabel dalam tim produksi film. 

Jika memang betul kamu sangat mencintai karya salah seorang seniman dan ingin memiliki karyanya, pengorbanan harus dilakukan. Entah dari segi waktu, usaha, atau uangmu, silakan pilih jalur yang kamu mau. Tapi pilihlah jalur yang sama-sama menguntungkan kamu dan seniman favoritmu, bukan justru memperkaya bandit-bandit pemalas yang kerjaannya hanya bisa mencuri saja. 

Bacaan lebih lanjut:

CNN Indonesia. “Tere Liye Trending Usai Kritik Keras Pembeli Buku Bajakan”. Diakses pada 26 Mei 2021.

Hukumonline.com. “Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014”. Diakses pada 26 Mei 2021.

Lova, Chnthia. “Pembajak Film Keluarga Cemara Divonis 14 Bulan Penjara”. Diakses pada 26 Mei 2021.

3.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top