Muhasabah Diri

Bulan Ramadan kali ini memang banyak bedanya bukan hanya untuk kita, melainkan juga bagi banyak orang di seluruh dunia. Satu yang saya rindukan dari ritual di bulan Ramadan yaitu suara anak-anak saling berlomba mengucapkan kalimat “Aamiin” saat salat tarawih. Sekarang hanya ada senyap. Puasa tahun ini juga terasa lebih cepat dan tidak melelahkan buat saya, mungkin karena tidak ke mana-mana, hanya di rumah saja.

Saya lantas teringat akan memori masa lalu sewaktu saya kecil dulu. Saat kedatangan bulan Ramadan adalah kabar tidak menyenangkan bagi saya karena harus menahan lapar dan dahaga selama satu bulan. Saya sudah belajar berpuasa sejak duduk dibangku taman kanak-kanak, sekitar umur 5 atau 6 tahun. Mulanya, Ibu memandu saya berpuasa dengan tiga sesi berbuka, satu kali di jam sepuluh pagi, sesi selanjutnya di jam dua siang, dan sesi ketiga di waktu berbuka ketika azan magrib tiba. Satu dua hari panduan Ibu berhasil saya lakukan, tapi panduan itu tak bertahan lama. Dari hari ke hari sesi berbuka saya makin berkurang karena saya tidak lagi melanjutkan untuk berpuasa setelah makan di salah satu sesi berbuka siang. Walau berpuasa masih belum menjadi kewajiban untuk saya kala itu, Ibu bilang berpuasa harus dilatih setiap tahun, agar terbiasa dan tidak terasa berat katanya. Melakukan ritual puasa memang tidaklah semudah kelihatannya. Ketika saya duduk dibangku sekolah dasar, saya kerap kali berpuasa setengah hari saja. Alih-alih membuat saya dapat berpuasa satu hari penuh, Bapak dan Ibu saya menjanjikan imbalan uang THR lebih di hari raya. Tentu saja, lagi-lagi saya tidak dapat menerapkannya satu bulan utuh, paling hanya satu atau dua minggu puasa saya penuh.

Pernah juga satu ketika di bulan Ramadan, sehabis sekolah, saya bermain di rumah seorang teman yang jaraknya dekat dari rumah. Awalnya kami hanya ingin bermain untuk menghilangkan kebosanan dan membunuh waktu menunggu petang tiba. Tapi sepertinya setan di bulan Ramadan tahun itu masih tersisa satu, karena entah bagaimana saya dan teman saya tergoda untuk berbuka puasa diam-diam alias “budim” dengan segelas air putih dingin. Atas pertimbangan yang matang kami berdua memutuskan untuk melakukannya. Walau hanya beberapa teguk, rasanya nikmat sekali. Saya pun pulang ke rumah dengan berlagak tidak terjadi apa-apa. Baru beberapa hari setelahnya saya mengakui tindakan saya pada Ibu. Bukannya dimarahi dan dilarang bermain lagi, Ibu malah melontarkan pertanyaan aneh yang memutar otak saya untuk menjawabnya, “Kalau sudah niat ingin membatalkan puasa, mengapa hanya minum air putih? Segelas pula. Besok lagi kalau mau buka puasa diam-diam, langsung saja dengan sepiring nasi lengkap dengan lauknya, ‘kan jadi kenyang,” ucap Ibu seraya tertawa. Ketika itu, saya tidak tahu apa maksud dari perkataannya. Saya hanya menyesal karena gagal menambah pundi-pundi rupiah yang bisa saya dapatkan di hari lebaran hanya demi segelas air putih dingin. Sejak itu saya pun tidak pernah lagi membatalkan puasa dengan sengaja.

Semakin beranjak dewasa, saya jadi mulai terbiasa untuk berpuasa.  Iming-iming hadiah uang THR di tanggal satu Syawal pun lama-lama memudar, hanya ada kepercayaan pahala yang akan saya dapatkan dan beban dosa jika saya tidak menjalankan ibadah puasa. Dengan bergulirnya waktu, ucapan Ibu kala saya membatalkan puasa dengan sengaja secara tidak langsung juga tertanam di diri saya. Tetapi bukan ucapannya tentang segelas air putih dan seporsi makanan yang bisa membuat kenyang. Saya mengingat ucapan Ibu kala itu sebagai sebuah wejangan kehidupan untuk berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas hal itu, dan melakukan apa pun dengan sepenuh hati. Ternyata berbuat salah tidak sepenuhnya salah, karena diam-diam salah mengajarkan saya tentang makna kehidupan yang benar. 

Mungkin pandemi yang terjadi saat ini adalah teguran dari semesta atas kelalaian kita sebagai penduduk bumi. Beruntungnya, semesta masih berbaik hati  dengan memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengintrospeksi diri lewat musibah yang diberi. Ramadan di tengah pandemi kali ini kiranya bisa menjadi ajang untuk muhasabah diri, mengakui apa-apa saja perilaku salah kita kepada bumi pun bertanggung jawab untuk memperbaiki. Sederhananya bisa dilakukan dengan tetap di rumah saja dan jika punya rezeki lebih, kita bisa membantu sesama.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top