Menerima, Merasakan, dan Mengendalikan Kekhawatiran

Di sepertiga malam yang rasanya begitu sunyi, terkadang ada suara berisik di atas kepala saya. Tentang banyak tanya dan kata yang muncul entah dari mana; perihal hari esok, lusa, dan masa depan yang tak pernah pasti. Saya tahu dunia ini sifatnya fana, sedang banyak dari kita berharap kepastian menetap pada sesuatu yang sifatnya sementara. Di jam-jam tengah malam itu, sambil berbaring di kasur empuk tanpa alat penerangan apa pun, pikiran saya dibawa ke mana-mana oleh diri saya sendiri. Dari mulai hal sederhana, seperti “Ponsel saya di mana ya? Baterainya sudah di isi ulang belum ya?” hingga “Mengapa saya hidup di dunia ini? Sebenarnya saya ini apa, sih? Ingin jadi apa? Ingin dilihat orang bagaimana?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang jauh lebih dalam tentang hidup saya. Hanya untuk tersadar bahwa saya masih di tempat yang sama, di atas kasur empuk di dalam kamar dengan jarum jam mengarah pukul tiga pagi.

Menjadi manusia ternyata tidak semudah makan, minum, berolahraga, dan berdoa saja. Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna juga dituntut harus mampu menyeimbangkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Kabar buruknya, banyak dari kita justru lebih takluk pada perasaan dan ego dibandingkan logika dan akal pikiran. Kekhawatiran menjadi hal yang mudah menaklukkan logika dan pikiran manusia.

Saya yakin tidak ada manusia yang tidak pernah merasa khawatir pada esok hari, masa depan, harapan, dan orang-orang sekitar. Kita semua dapat dipastikan khawatir terhadap segala yang ingin dan akan kita hadapi. Pada hakikatnya, perasaan khawatir adalah salah satu bentuk emosi yang wajar untuk dirasakan setiap orang. Justru tanpa perasaan khawatir, hidup manusia akan terasa hambar. Kekhawatiran adalah sifat alami manusia. Itu menurut menurut Robert Leahy, seorang psikolog klinis asal Amerika. Lebih lanjut, melalui artikel berjudul “Most Things You Worry About Will Never Actually Happen”, Leahy menjelaskan perasaan khawatir dapat membantu manusia untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan kehidupan. Tapi, sejauh mana perasaan khawatir yang sering menyetir pikiran masih dapat kita maklumi keberadaannya?

Adjie Santosoputro, seorang praktisi emotional healing dan mindfulness, bercerita lewat artikelnya yang berjudulKalau Kamu Selalu Khawatir”, ketika ia mendapatkan jawaban dari salah satu gurunya tentang mengapa kita sering merasa khawatir. “Yang sebenarnya bikin kamu khawatir adalah karena pikiranmu penuh dengan masa depan. Maka, sadarilah itu dan latihlah pikiranmu untuk lebih berada di saat ini, di sini-kini.”

Jika saya pikir-pikir lagi, benar juga. Tiap lamunan tengah malam saya di atas kasur adalah perihal masa yang akan datang. Pikiran yang justru membuat saya lupa bahwa saat ini saya juga sedang hidup. Tampaknya memikirkan kehidupan saya di sini-kini bisa jadi cara ampuh mengurangi perasaan khawatir. Toh, yang kita khawatirkan adalah sesuatu yang belum terjadi, sedangkan saat ini dan di sini, adalah sebuah kenyataan yang sedang saya benar-benar jalani⁠—walau sebagai manusia, rasanya lebih mudah mengucapkan alih-alih melakukan.

Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa berani kamu meninggalkan kekhawatiran tentang masa depan? “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selain makan kepala kita sendiri,” sebuah kutipan dari buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Apa pun yang kita khawatirkan tentang yang akan terjadi di depan sana mungkin akan benar-benar terjadi pada diri kita, atau tidak. Kuncinya hanya ada di pikiran kita. Semakin kamu mempercayai hal tersebut, semakin nyata hal tersebut memengaruhi dirimu sendiri, vice versa. Akan selalu ada akibat dari apa yang kamu pikirkan. Entah baik atau buruk.

Kata Umar Bin Khattab, “Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Tidak ada yang salah dari merasa khawatir. Karena setiap emosi memang pertama-tama tercipta untuk dirasakan, bukan untuk dilogikakan. Lantas kekhawatiran tampaknya patut untuk dimaklumi. Tetapi ingatlah bahwa rasa khawatir hadir untuk membuat kita lebih siaga. Bukan justru membegal keberanian untuk memulai setiap langkah baru demi masa depan. Ingat juga, bahwa gagal itu adalah sebuah keniscayaan. 

Saya kembali pada pernyataan tentang dunia yang sementara. Jika kita memang percaya akan hal itu, berarti masalah dan kekhawatiran kita sifatnya juga sama, hanya sementara. Mari kita sama-sama berjuang, melatih keberanian untuk menerima, merasakan, dan mengendalikan kekhawatiran.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top