Mencintaimu Tanpa Tapi Itu Mustahil

Mencintaimu tanpa tapi itu mustahil. Kamu sendiri yang bilang bahwa mencintaimu itu artinya aku harus menerima lebih dan kurangmu. Namun mengapa “tapi” tidak lantas gentar membuatku berhenti mencintaimu lagi? Mengapa “tapi” tak menjadikan kita berakhir sendiri-sendiri?

Pernah satu waktu, kau bercerita padaku tentang seorang anak perempuan yang kautemui dalam mimpi. Dia terlihat lugu dengan pipi merah merona sembari membelai lembut helaian rambut boneka di pangkuannya. Lalu seorang perempuan dewasa datang menghampirinya dan menggandeng tangan anak perempuan tadi menuju entah ke mana. Kamu ingat betul perubahan wajah anak perempuan itu, dari gusar dan cemas menjadi begitu semringah setelah perempuan dewasa yang kauspekulasikan adalah ibu bocah perempuan tadi menghampirinya. Kaubilang perempuan kecil itu terasa tidak asing, begitu pula pada perasaan gusar, cemas, dan semringah yang terpancar dari wajahnya. Kau merasa pernah memilikinya, layaknya kau pernah berada pada sosok anak perempuan itu dahulu. Berhari-hari kaucari siapakah gerangan anak perempuan itu, mengapa perasaan cemas, gusar, dan bahagia yang dimilikinya justru melekat pada dirimu bahkan setelah kamu bangun dari tidur. Kamu pun bertanya-tanya, jika memang perasaan itu pernah ada, mengapa baru kembali kamu merasakannya, ke mana perginya mereka selama ini?

Sejak pertama kali mendengar ceritamu, aku tahu bahwa yang kaubicarakan adalah dirimu sendiri dari masa lalu. Seorang perempuan kecil yang lugu dan begitu menggemaskan dengan rahasia-rahasia kelam yang dia simpan seorang diri sampai dewasa. Perempuan itu dirimu, yang merasa gusar karena teman yang telah lama ditunggu tak datang, yang cemas karena takut cinta ibunya direnggut oleh bayi kecil yang baru berusia 6 bulan. Perempuan itu dirimu, yang merasa begitu bahagia saat ibumu datang dan menggenggam tanganmu erat-erat saat udara di sekitar terasa begitu dingin yang menusuk.

Mungkin ia merindukan kamu yang dulu. Kamu yang tidak pernah takut dengan kalimat, Bagaimana jika semua berjalan tidak sesuai rencana? Bagaimana jika niat baikku justru diartikan hal buruk oleh manusia lainnya? Bagaimana jika semua yang kulakukan hanya sia-sia? Mungkin juga ia masih ingat dengan kejujuran dan ketulusanmu di masa lalu yang tak mengenal embel-embel “Manfaat dan keuntungan” apa yang akan kaudapat. Udara kering dan permukaan kasar bumi tampaknya yang mengubah dirimu sampai sejauh ini.

Tapi aku akan tetap mencintaimu, tentu dengan tapi. Aku akan menerima seluruh kurang dan lebihmu yang juga menumbuhkanku. Kita akan terus bergelut satu hari penuh saat pikiranmu berlarian ke sana ke mari, kita akan berpelukan setelah berhasil melewati rintangan besar yang hampir membuatmu angkat tangan, dan kita juga akan saling menemani saat satu dari kita menangis di tengah malam tanpa alasan.

Itulah mengapa mencintaimu tanpa tapi itu mustahil. Karena aku tau luka apa saja yang telah lama kaujahit dengan rapi walau sering kali berakhir harus kauberi obat merah lagi dan lagi; karena luka dan rahasia yang kaupendam sendiri sejak kecil itu yang mendewasakanku; karena tiap salah langkah dan lakumu di masa lalu yang membentuk tindak tandukku saat ini. Mencintaimu tanpa tapi itu mustahil dan karenanya aku akan terus berusaha mencintaimu sampai akhir.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top