Makanan dan Cinta Di Dalamnya: Seporsi Hati yang Membahagiakan

Bicara soal cinta terlalu sulit rasanya. Jika saya pinta, apa ada yang bisa mendeskripsikan makna cinta yang sesungguhnya? Jujur saya bingung jika harus memaparkan tentang cinta dengan beberapa kata. Mungkin kamu juga. Kita sama-sama terjebak dalam sebuah emosi bernama cinta yang kita paham betul rasanya tapi tak sanggup untuk memaparkan makna sesungguhnya. Sepertinya cinta memang terlalu rumit untuk utarakan panjang lebar.

Jika bicara soal cinta, mungkin saya bukan orang yang tepat untuk membahasnya. Karena 20 tahun hidup di dunia, hanya makanan ibu yang saya anggap cinta abadi. Yang tiap kehadirannya menenangkan hati, memperbaiki hari, dan tak pernah pergi. Untuk saya, masakan ibu tak pernah ingkar janji, dia selalu setia dan menemani saya di kala dunia sedang kacau-kacaunya.

Saya jadi teringat dengan salah satu film Indonesia yang saya tonton beberapa bulan lalu berjudul Aruna dan Lidahnya. Sebuah film dari adaptasi novel karya Laksmi Pamunjak dengan judul yang sama. Film itu berkisah tentang dua teman dekat, Aruna dan Bono yang punya kesamaan minat. Tertarik pada semua jenis makanan nusantara. Perjalanan dinas Aruna dalam rangka mengidentifikasi wabah flu burung mengantarkan mereka berpetualang mencoba berbagai makanan khas daerah Jawa Timur dan Kalimantan Barat. Sebut saja Soto Lamongan, Choi Pan, Pengkang beserta Sambal Kepah, dan banyak yang lainnya. Film ini berhasil membuat penonton menelah ludah, saya salah satu di antaranya.

Mungkin kamu akan bertanya-tanya tentang apa hubungan cinta dan film Aruna dan Lidahnya. “Ini kan hanya film makanan,” mungkin begitu protesmu. Ya saya tahu betul film ini lebih mengutamakan unsur makanan ketimbang cinta. Tapi melihat bagaimana film ini mengisahkan tentang perjalanan kuliner yang tak sekedar menilai enak tidaknya sebuah makanan membuat saya tertarik untuk menggali hakikat dari makanan itu sendiri.

Bagi sebagian orang mungkin makanan hanya kebutuhan pangan. Sekadar menopang jasmani agar tetap sehat dan bugar. Tapi bagi sebagian lain, mungkin beberapa makanan menjadi sesuatu yang sakral. Yang menimbulkan kenangan dan bisa berdampak pada suasana hati seseorang. Umadevi Naidoo, seorang direktur nutrisional dan psikiater gaya hidup di rumah sakit umum Massachusetts di Boston menyatakan, “Penelitian menunjukkan bahwa apa yang Anda makan mempengaruhi suasana hati Anda.” Hal ini jelas membuktikan bahwa makanan tak sekedar kebutuhan primer belaka.

Sadar atau tidak, setiap orang pasti merasa bahagia setelah makan. Entah mewah atau sederhana, enak atau biasa-biasa saja, ketika lapar sudah menghadang dan makan jadi solusi satu-satunya menurunkan emosi, kita semua akan absolut setuju bahwa makanan adalah perwujudan pahlawan tanpa nadi. Ajaibnya, makanan juga akan lebih nikmat kita santap saat bersama orang-orang tercinta. Di satu meja yang sama, saling berbagi makanan, cerita, dan keluh kesah tentang dunia—sekalipun menu makanan yang dilahap sederhana.

“Makanan itu mempunyai kekuatan seperti alam semesta. Dia menghubungkan kita ke berbagai macam orang. Dari yang kita benci sampai yang kita suka setengah mati. Dia nggak hanya melahirkan cerita baru. Dia juga lahirkan banyak kemungkinan baru. Apalagi kalo kita makannya sama orang-orang yang kita sayang. Ini rumah. Ini mewah.” (kutipan dari film Aruna dan Lidahnya)

Sebagai seorang yang jatuh cinta pada makanan ibu punseseorang yang gemar bereksperimen pada resep baru di dapur, mungkin ada satu hal yang bisa saya jelaskan mengapa tiap dari kita merasa bahagia ketika kenyang. Terlepas dari nutrisi dan kandungan dari makanan yang kita konsumsi, proses memasak barang mentah menjadi matang dengan menambah beberapa bumbu sebagai penikmat rasa adalah bagian penting dalam membuat makanan. Karena dalam prosesnya ada tangan, mata, pikiran, dan hati yang dicurahkan penuh sang koki dalam menyiapkan makanan hingga siap disaji. Mungkin, itu bisa jadi alasan mengapa tiap dari kita selalu bahagia usai makan. Karena tanpa disadari ada cinta tulus dari hati sang koki yang dicurahkan dalam seporsi makanan.

Jika semua yang membahagiakan disebut cinta, pantas bukan jika saya bilang bahwa semangkuk mie atau sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk adalah perwujudannya? Ternyata cinta tak serumit pikiran kita. Cinta bisa menjelma jadi apapun yang kau mau sepanjang itu membahagiakanmu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top