Kita Semua Punya Arena Berlari Masing-Masing

Kita semua sampah dan kita tidak perlu menyangkalnya. Kita perlu memaklumi bahwa merasa tidak berguna dan kecil adalah hal yang biasa. Menerimanya dengan lapang dada akan membuat semua lebih mudah. Tapi untuk generasi saya, martabat jauh lebih berarti ketimbang membuat tenang hati. Kami lebih suka memaki daripada menerima kenyataan tentang diri kami yang kecil.

Dalam satu bulan terakhir, empat orang teman dekat di waktu yang berbeda mengobrol dengan saya. Kami mengeluh tentang kecerobohan dan kebodohan apa saja yang telah kami lakukan belakangan ini. Kenyataan bahwa kami harus bersinggungan dengan orang-orang yang lebih hebat, pintar, dan cekatan membuat kami justru merasa dicemooh dan dianggap remeh. Mereka tidak secara frontal mencemooh kami, tapi kenyataan pahit yang kami alami berbicara langsung betapa tidak bergunanya diri ini.

Atas dasar validasi, kami setuju jika usaha dan kerja keras kami kurang dibanding mereka yang sudah hebat dan sukses di usia muda. “Gimana kita bisa sukses kalo cuma selonjoran sembari scrolling TikTok lebih dari dua jam?” Begitu pikir kami.

There are way easier places to work, but nobody ever changed the world on 40 hours a week.” – Elon Musk.

Musk percaya bahwa seseorang yang ingin membuat perubahan perlu bekerja lebih lama dan tidur lebih sedikit. Pernyataan beliau yang ditambahkan oleh pernyataan eksekutif muda lainnya–yang suka mondar-mandir di lini masa– membuat kami percaya kalau mengeksploitasi diri sendiri adalah cara terbaik untuk sukses. Sudut pandang itu bisa dijelaskan dengan fenomena hustle culture. Selain karena waktu 24 jam rasanya terbatas kalau dibandingkan dengan kerjaan yang menumpuk, budaya hustle culture dengan cara bekerja tanpa henti masih terus dipeluk erat oleh kami yang percaya: usaha tidak mengkhianati hasil. Bukan tanpa alasan kami terus percaya pada mimpi utopis bahwa kesuksesan bisa datang pada siapa saja yang berusia muda selagi mereka terus berusaha. Tren teranyar yang muncul dengan pernyataan jika usia 25 tahun adalah waktu yang ideal untuk punya tabungan 100 juta dan melihat kesuksesan Maudy Ayunda serta Jerome Polin yang masuk dalam daftar Forbes Under 30 Asia 2021 turut memperkuat kepercayaan itu.

Tren tentang anak muda yang sukses juga mengingatkan saya pada karakter Beth dalam serial The Queen’s Gambit (2020). Dalam salah satu dialog, Jolene, teman masa kecil Beth, pernah mengatakan ini kepada Beth, “You’ve been the best at what you do for so long, you don’t even know what it’s like for the rest of us.” Beth bisa menjadi penggambaran anak muda yang justru kehilangan masa mudanya karena kesuksesan yang sudah tersimpan rapi di saku jaketnya. Kemenangan yang selalu Beth raih selama bermain catur membuat ia tidak pernah tahu rasanya masa muda yang busuk: merasa kecil dan tidak berguna, bingung mencari passion ke sana ke mari, belum lagi harus gagal dan merasa bodoh berulang kali.

Kita perlu menyingkirkan tujuan untuk menyetarakan diri dengan mereka yang kita pikir sudah sukses dengan cara berlari. Karena sungguh, jika kita melakukan segala hal untuk itu, pasti akan sangat melelahkan. Alasannya sederhana, mereka melakukan segala usaha bukan untuk menang melawan kita. Berlari dengan keras adalah satu hal yang tidak salah-salah amat untuk dilakukan. Tapi jangan lupa pada sandwich generation yang juga sama-sama berlari, walau harus menopang masa depan sekaligus memikul beban berat keluarganya. Pada kenyataannya, kita mungkin sama-sama berlari untuk satu tujuan, tapi dengan titik awal yang berbeda, memikul beban yang juga berbeda, pun di jalur yang berbeda. Kita semua punya arena masing-masing, walau nahasnya kita selalu khawatir akan tertinggal.

Mungkin benar, terasa menyenangkan jika kita bisa sukses semuda dan secepat mungkin, mendapatkan sanjungan di sana sini, berada di podium satu tingkat lebih tinggi, dengan banyak orang yang berusaha menjalin hubungan baik dengan kita; pertanda bahwa mereka tidak memandang kita sebelah mata. Tapi jika itu kita dapatkan di usia muda, lantas apa setelahnya?

Percakapan saya dengan empat teman berakhir antiklimaks. Kami hanya sama-sama yakin pilihan terbaik adalah menjalani saja apa yang ada di depan mata. Kami akan terus mengeluh jika periode kelam di masa muda kami datang lagi, masa ketika kami merasa tidak berguna dan menjadi sampah. Lalu kami akan bangun di pagi hari, kembali beraktivitas, bertemu beberapa orang hebat yang membuat hati kami tidak tenang, dan menikmati semesta masa muda dengan penuh sukacita dan dukacita, hingga satu waktu kami ingin kembali lagi ke masa ini.

Bacaan lebih lanjut:

Miller, D. 1981. “The ‘sandwich’ generation: Adult children of the aging”. Dalam Jurnal Social Work, Vol. 26, no. 5, 1981 (hlm. 419–423). Diakses pada 26 Mei 2021.

Ramos, Timothy. “Hustle Culture: More Harmful Than Helpful”. Diakses pada 26 May 2021

Syafina, Dea Chadiza. “Beratnya Hidup Menjadi Generasi Sandwich”. Diakses pada 26 May 2021.

5 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top