Kita Hanya Punya Dua Tangan

Dinamika kehidupan bagi masyarakat yang hidup di era digital memang semakin beragam. Ketika dahulu konsep diri hanya akan dipengaruhi oleh diri sendiri juga lingkungan sekitar seperti pertemanan dan keluarga, kini hal tersebut semakin pelik dengan ikut andilnya masyarakat global dan gelombang arus mayoritas yang begitu semarak ada di media sosial.

Media sosial yang notabene adalah dunia maya ternyata punya efek begitu besar pada dunia nyata. Bahkan ada beberapa dari kita, seperti kedua orang tua saya, justru lebih percaya pada apa yang terjadi di dunia maya dibanding di dunia nyata, terbukti dari hoaks yang laris di mana-mana. Sebagai pengguna aktif media sosial, saya sendiri kerap luput pada konsep hidup yang saya samakan dengan fitur-fitur yang ada di dalam media sosial, seperti mengukur nilai eksistensi dan validasi dari fitur likes dan komentar.

Ketika melihat beranda akun media sosial pribadi, saya mengamati bahwa saat ini banyak dari kita yang berlomba-lomba mendapatkan banyak perhatian juga validasi dari akun media sosial pribadinya: berusaha mengikuti tren yang ada, ingin terlihat serupa dengan mereka yang telah berhasil mendapatkan perhatian, validasi, juga materi dari sosial medianya, atau sekadar membuktikan eksistensi diri. Semua itu kita lakukan agar disukai juga diterima, agar tidak terlihat berbeda dan dikucilkan oleh masyarakat. Kita menjadi individu yang selalu mementingkan kepentingan banyak orang dan mengabaikan kepentingan diri sendiri; individu yang memiliki pemikiran bahwa cara bahagia adalah dengan mendapatkan afeksi dan apresiasi dari banyak orang. Tanpa sadar kita memasang tolok ukur kebahagiaan orang untuk kebahagiaan kita, dan meyakini bahwa penolakan pada arus mayoritas menjadi sesuatu yang haram. Apa tidak lelah, terus-menerus mengikuti kata mereka?

Kau mungkin akan bilang, “Lantas mengapa? Toh semua orang melakukan hal yang serupa? Apa salah jika berusaha bahagia dengan membuat orang lain bahagia?”

Tidak ada yang mutlak salah atau benar, tidak ada yang salah juga untuk berusaha membahagiakan banyak orang. Dalam buku Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo, dikatakan bahwa banyak orang yang suka berbuat baik dan selalu berusaha membahagiakan sesamanya, karena itu adalah kebaikan dan kebahagiaannya sendiri.

Di hidup ini ‘kan semua bebas dilakukan, walau terkadang ada syarat dan ketentuan yang mesti diperhatikan. Kebaikan dan kebahagiaan sendiri menjadi tanggung jawab yang patut untuk diperhatikan jauh lebih awal. Ketika dengan membahagiakan orang lain telah memenuhi kebaikan dan kebahagiaanmu, ya lakukan saja. Tapi bagaimana jika menolak dan mengatakan “tidak” pada gelombang arus yang ada adalah hal yang lebih membawa kebaikan untuk hidupmu? Hal itu boleh jadi sukar, butuh perjuangan, tidak lantas berhasil pula, tapi tidak ada yang mutlak salah atau benar ‘kan?”

Saya hanya sedang berusaha untuk tidak menjadi orang yang kehilangan konsep diri sendiri hanya karena selalu meredam sudut pandang pribadi, tidak menjadi seorang people’s pleasure yang merasa bertanggung jawab pada kebahagiaan orang lain sehingga kehilangan pendirian. Saya juga sedang berusaha untuk tidak merasa kecil dan salah ketika orang di sekitar tidak mengapresiasi diri saya.

Tangan kita saja hanya ada dua, bagaimana kita mampu merangkul dan memenuhi segala keinginan banyak orang? Pilih saja satu atau beberapa orang yang ingin kita bahagiakan. Lakukan sebaik-baiknya dengan darma, bukan atas dasar “yang banyak dilakukan orang” dan tanpa menuntut balasan dari mereka.

Bahagia itu ‘kan hak masing-masing diri, jadi bukan tanggung jawab jiwa lain untuk membahagiakan diri pun bukan tanggung jawabmu untuk membahagiakan jiwa lain. Kita hanya bisa berusaha untuk berbuat baik kepada sesama, urusan apakah perbuatan baik kita akan membahagiakan mereka atau tidak, biarkan itu menjadi urusan mereka. Kita tidak punya kendali atas pikiran dan perilaku orang lain.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top