Kita Berpolitik Setiap Hari

Siapa yang sering menghidari topik politik saat berbincang dengan teman-teman? Mungkin alasannya karena ada beberapa dari kita yang tidak suka topik tentang politik, karena terkesan sulit, ribet, dan memusingkan untuk dipikirkan. Apalagi untuk kita kaum menengah yang punya jarak amat jauh dari para politikus kaum elite; perbincangan hanya akan jadi angin lalu, bualan kosong.

Faktanya, setiap dari kita berpolitik hampir setiap hari. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Bukan, saya bukan sedang berbicara tentang kehidupan para pejabat pemerintah yang mengurusi urusan peraturan dan tata kenegaraan. Saya dapat mengatakan hal barusan karena saya menemukan pemahaman bahwa politik tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang makro, pemerintahan dan kenegaraan, tapi juga soal bagaimana suatu kebijakan dapat diputuskan. Dulu, saya mendapatkan pemahaman itu dari kelas pengantar ilmu politik di awal semester perkuliahan. Lalu pemahaman saya digenapkan dengan penjelasan kata “politik” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI ) yang saya akses secara daring, bahwa politik adalah cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan.

Saya sering menghabiskan waktu berjam-jam ketika dilanda kebimbangan untuk memilih satu dari deretan menu di salah satu toko makanan yang tertera dalam aplikasi ojek online. Anehnya di tengah kelaparan jam makan siang, saya tidak langsung memilih makanan teratas di daftar menu, saya akan melihat-lihat apa saja menu yang ditawarkan tempat makan itu, lalu mencocokkannya dengan selera makan saya, juga dengan kondisi kantong tentu saja; atau ketika saya memutuskan untuk men-check out semua daftar belanja di keranjang toko online, lagi-lagi, saya biasanya akan memilah daftar barang, mana yang memang benar saya perlukan, dan mana yang hanya sekadar saya masukan ke dalam keranjang dengan emosional. Setelah itu, saya akan melihat apakah saya memiliki kupon gratis pengiriman yang biasanya diberikan aplikasi secara cuma-cuma setiap bulan.

Saya juga bukan orang yang suka membuat jadwal, tapi tanpa sadar, saya kerap menentukan beberapa hal sederhana yang dilakukan secara naluriah hampir setiap hari, sesederhana menentukan: kapan waktu saya bangun tidur; apakah saya langsung mandi atau melihat ponsel setelah bangun; baju apa yang akan saya kenakan; menu sarapan, makan siang, dan makan malam apa yang akan saya santap; kegiatan apa saja yang akan saya lakukan; dan menentukan pada pukul berapa saya akan kembali ke kasur kesayangan. Sebuah proses pengambilan keputusan yang terlihat picisan, tapi sebenarnya punya pengaruh pada kehidupan saya sehari-hari.

Begitu pun saat saya kedapatan di antara beberapa pilihan besar dalam hidup. Ketika saya harus memutuskan akan berkuliah di mana dan mengambil jurusan apa, ada berbagai pertimbangan yang saya lakukan. Dari mulai pendapat orang tua, minat diri saya, dan peluang yang saya miliki. Sama halnya dengan satu tahun lalu, ketika saya harus memilih peminatan apa yang harus saya jalani sampai akhir perkuliahan nanti. Saya bahkan sampai datang ke psikolog hanya untuk meminta bantuannya menemukan jalan keluar atas kebingungan yang saya alami. Saat saya memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan pertemanan yang sudah sempat saya ceritakan lewat tulisan berjudul “Berhenti Racik Racun Sendiri“, saya pun melakukan pertimbangan hampir satu tahun lamanya sampai akhirnya memutuskan.

Pada setiap proses memilih itu, saya sadar bahwa selalu ada tapi yang menyertai tiap opsi. Saya paham betul bahwa memilih untuk tidur lebih malam karena ingin menuntaskan drama korea akan membuat saya bangun lebih siang esok harinya, dan menyesali diri karena jadi tidak sempat menghirup udara segar pagi dan sinar sehat matahari;  atau ketika saya memutuskan untuk men-check out semua isi keranjang di toko online, saya harus melakukan pengiritan sampai akhir bulan karena uang jajan yang hampir seluruhnya sudah terpakai, lalu saya akan menyesal ketika ada teman yang mengajak jalan tapi saya sudah tidak punya cukup uang. Selalu ada penyesalan pada hal-hal yang telah terlewati. Begitu pula terjadi pada pilihan-pilihan penting dalam hidup saya.

Jika politik dikaitkan erat dengan ketatanegaraan atau kenegaraan, mungkin kita bisa membuat diorama dengan mengibaratkan hidup kita sebagai negaranya. Dalam negara itu, ada diri kita sebagai presidennya. Sedangkan keluarga, teman, dan kenalan bisa diibaratkan sebagai rakyatnya. Dalam sebuah negara, presiden tentu tidak akan memutuskan sebuah keputusan seorang diri, biasanya dia akan akan meminta bantuan kepada rakyatnya yang berujung demi kebaikan negara yang mereka cinta. Bagaimanapun argumen, saran, dan kritik yang disampaikan rakyat, sebuah rancangan kebijakan pada akhirnya hanya akan resmi menjadi kebijakan jika telah disetujui oleh presiden, sekalipun kebijakan yang diambil akan menuai berbagai protes di sana-sini. Pun ketika terjadi masalah atas kebijakan yang telah diputuskan, presiden jugalah yang paling bertanggung jawab besar memperbaiki negaranya.

Presiden dalam suatu negara memiliki kuasa dan tanggung jawab yang tinggi, dan presiden yang baik adalah dia yang berpolitik dengan bijaksana dalam mengatur dan menentukan nasib negaranya. Mungkin, itu mengapa keterampilan dalam berpolitik yang baik penting untuk dimiliki oleh setiap kita; untuk bekal menjalani hari, juga dalam rangka bertanggung jawab pada negara yang kita miliki sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top