Jerry: Tentang Aseksual dan Jujur Kepada Diri Sendiri

Di tengah masyarakat heteroseksual, kita sering kali menutup mata tentang orientasi seksual yang berbeda. Jerry adalah seorang aseksual yang tidak memiliki ketertarikan atau gairah, baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis. Jerry melakukan pencarian jati diri hingga sampai pada pemahaman tentang apa yang ia alami.

 

Ungkapan lingkunganmu akan mempengaruhimu saya rasa dialami betul oleh Jerry. Selama masa sekolah hingga lulus, Jerry bahkan belum mengetahui tentang orientasi seksual yang ia miliki. Semasa SMP (Sekolah Menengah Pertama), Jerry sempat memiliki keinginan untuk memiliki pacar hanya karena ikut-ikutan apa yang sedang ramai di lingkungan sekitar. Rasa tidak nyaman selalu muncul dalam dirinya tiap kali harus melakukan kontak fisik yang berkaitan dengan hubungan romantis, seperti pegangan tangan. Namun, hal tersebut tak lantas membuat Jerry sadar bahwa dia berbeda dari kebanyakan orang. Jerry pernah menjalin hubungan asmara bersama seorang wanita dengan anggapan, “Biar seperti orang-orang”. Pun kala itu, dia masih berpikir bahwa puncak dari sebuah hubungan asmara adalah seks. Tetapi, lagi-lagi Jerry merasa tidak nyaman saat menjalin hubungan percintaan sampai-sampai dia pernah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan seseorang karena takut menyakiti hati pasangannya tersebut.

 

“Karena yaitu, pengaruh lingkungan tadi, ‘pengen kayak temen-temen’. Siapa, sih, yang enggak iri. Apalagi terus-menerus dibilang, tuh, ‘temen lo punya pacar, kok lo enggak? Jangan-jangan lo kelainan.’”

 

Jerry pernah mencoba berhubungan seksual dengan pacarnya, seorang perempuan. Dia memutuskan untuk menjalin tali asmara demi membahagiakan pasangannya. Teman-teman di sekitar Jerry turut mendukungnya untuk mengambil keputusan ini. 

 

Alih-alih terpuaskan atau senang, Jerry justru depresi. Seperti sudah jatuh lalu tertimpa tangga, hal lain secara bertubi-tubi muncul menambah beban di hidupnya. Banyak hal yang mendera Jerry seperti punggung kaki yang patah, putus hubungan dengan pacar, hingga didepak dari pekerjaan.

 

Ajaibnya, setelah semua yang dialami, Jerry justru belajar tentang dirinya sendiri. Dia menjadi lebih terbuka dan jujur terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Di situlah Jerry menemukan kebahagiaan dan kedamaian hati yang telah lama dia cari.

 

“Ini diri aku. Ini diri gue. Mau bagaimanapun juga, mau pura-pura yang bukan gue, ya enggak bisa. Mau ngikutin orang yang, kayak nikah, ya enggak bisa. Walaupun sudah coba, tapi ya ujungnya di gue enggak happy. Happy-nya beda. Yang aku rasain, aku enggak jadi diri aku sendiri. Aku ngerasa peace inside, damai, selama ini, udah enggak ngikutin kemauan orang dan jujur sama diri sendiri.”

 

Mendengar Jerry bercerita tentang apa saja yang menimpa dirinya di masa lalu, membuat saya jadi berpikir tentang hebatnya semesta bisa melakukan berbagai macam cara untuk menjawab pernyataan yang terlontar dari mulut manusia. Entah baik atau buruk, sepertinya kita hanya perlu menunggu jawaban dari semesta seraya tetap berusaha, seperti apa yang dilakukan Jerry.

 

Jerry percaya, bahwa pasti ada alasan mengapa dia lahir di dunia ini; ada seseorang di luar sana yang membutuhkan dirinya. Misalnya, membantu sesama meskipun sebatas memberikan pertolongan kecil kepada orang lain. Jerry tak pernah tahu tentang apa yang akan dia lakukan suatu hari nanti. Tapi yang pasti, Jerry selalu mencoba untuk menikmati kehidupan yang saat ini ia jalani.

 

“Aku happy dengan keadaan aku sekarang ketimbang nurutin kemauan orang lain dan omongan orang. Udahan nyari-nyarinya. Ini udah diri gue.”

 

Menurut Jerry, menjadi manusia adalah tentang kejujuran terhadap diri sendiri dan juga kepada orang lain, tidak mencoba untuk menjadi orang lain. Sejatinya, setiap kita memiliki perbedaan untuk menciptakan keindahan di dunia. Jerry berharap setiap orang dapat menghargai pilihannya, pun menghargai orientasi aseksual itu sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top