Dinding Tinggi Itu Bernama Masa Lalu

Seseorang terjebak di dinding yang tinggi. Terperangkap dia di sana tak bisa ke mana-mana. Segala cara dia coba untuk lolos dari dinding yang membatasi dirinya, salah satunya adalah membuat celah pada dinding itu. Lalu dia sadar, usahanya hanya jadi sia-sia sebab dinding tinggi yang menghalanginya sangat kokoh. Andai saja dia mau menerima, cukup berjalan mengikuti ke mana dinding tinggi itu berujung, dengan begitu mungkin saat ini tak ada lagi dinding yang membatasinya. Begitulah kira-kira ketika kita memilih untuk berusaha melupakan masa lalu yang pahit ketimbang menerimanya. Kamu tidak akan ke mana-mana, terjebak dalam ruang dan waktu yang sama, di sana.

Saya kira kamu sudah tau dan sepertinya banyak juga yang telah memberi tahumu, bahwa masa lalu adalah yang membentuk kita menjadi saat ini. Bagaimana kita berpikir, melihat sesuatu, memperlakukan orang lain, dan mengartikan tiap hal yang terjadi, semua dipengaruhi oleh masa lalu. Katanya, kepakkan sayap seekor kupu-kupu di utara bisa menyebabkan badai besar di selatan, butterfly effect. Katanya lagi, kita semua saling berkaitan dan membangun sebuah kisah yang jika dirunut akan punya satu alur cerita, keterhubungan.

Manusia memang punya logika. Kita semua selalu berusaha menjelaskan banyak peristiwa melalui cara-cara ilmiah yang bisa dicerna akal. Namun, logika jugalah yang membuat manusia lupa bahwa ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu dan pikiran. Mungkin benar apa yang telah terjadi di masa lalu memberikan sumbangsih pada hidup kita saat ini. Lantas,  bagaimana dengan kebetulan, pertemuan dengan orang-orang yang tidak disengaja, dan momen tidak terduga, apakah benar ada sebuah penjelasan pasti untuk itu?

Pada masa lalu yang keji, kita kerap mengumpat kasar dan menuntut kejelasan mengapa semua terjadi dan harus hidup kita yang menjadi sasarannya. Kita berakhir memutuskan untuk melupakan yang telah terjadi padahal semua yang sudah lewat–walau tidak semuanya bisa dijelaskan–adalah yang membentuk diri kita saat ini. Kita terlalu khawatir akan masa depan, sampai lupa untuk mengurusi permasalahan masa lalu yang belum selesai. Lalu satu waktu hadir membuat kita bertanya-tanya, “Mengapa hati rasanya tidak tenang ya? Seperti ada yang mengganjal tapi apa?” Jawabannya ialah masa lalu. Selesaikanlah, hadapi masa lalumu yang keji itu sebelum melepaskannya.

Berhasil menceritakan bagian hitam di masa lalu adalah pertanda bahwa seseorang sudah siap untuk mulai melepaskan semua yang memberatkan. Untuk sampai pada tahap itu kita perlu menerima masa pahit yang membuat bagian hidup kita tak sempurna lagi. Sebuah perayaan dengan tangisan seperti yang telah saya  ungkapkan dalam “Bagaimana Caramu Berdamai dengan Masa Lalu?” adalah satu cara yang mungkin bisa dicoba. Sungguhlah, ada begitu banyak cara yang bisa ditempuh untuk bisa menerima masa lalu. 

Saya tidak peduli kamu melakukannya dengan cara apa, saya juga tidak bisa memaksamu untuk cepat-cepat menerimanya. Jika memang dinding yang menghalangimu semakin tinggi, teruslah berusaha untuk menerimanya walau tidak masuk akal. Temuilah ujung dindingnya, sekalipun butuh waktu yang lama.

Bacaan lebih lanjut:

Blount, Zachary D. “Replaying Evolution”. Diakses pada 15 Juli 2021.

Crampton, Linda. “Serendipity: The Role of Chance in Scientific Discoveries”. Diakses pada 15 Juli 2021

Natasya, Nadia. “Bagaimana Caramu Berdamai dengan Masa Lalu?”. Diakses pada 15 Juli 2021

Sankowski, Kelly. “WHAT NATURE CAN TEACH US ABOUT INTERCONNECTEDNESS”. Diakses pada 15 Juli 2021.

Vernon, Jamie L. “Understanding the Butterfly Effect”. Diakses pada 15 Juli 2021.

3.8 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top