Bertahan dalam Kehidupan Sehari-hari

Pagi ini aku bangun pukul sembilan. Udara pengap kamar karena teriknya surya membuatku memutuskan melipat selimut dan bergegas beranjak dari kasur. Di hari lain, panggilan alam atau kegiatan yang telah terjadwal seperti kelas pagi adalah hal yang memaksaku untuk bangun. Sebelum ke luar menuju tempat pembersihan diri, aku mengecek ponsel, berjaga-jaga jika ada pesan atau kabar penting. Setelah selesai membersihkan badan, aku akan mulai bekerja di depan laptop. 

Sarapan adalah barang mewah. Aku dan perut sudah sepakat dan dia sudah paham betul akan mulai diisi lewat pukul 12 siang, kadang dia juga pengertian ketika baru kusuapi pukul 3 sore. Sesekali di tengah hari, aku akan menutup laptop barang sejenak untuk makan, memenuhi panggilan alam, beralih ke gawai lainnya untuk membuka media sosial, atau sekadar memejamkan mata. Aku sudah tidak tau kapan waktu matahari lingsir ke peraduan dan kembali menampakkan dirinya. Tiap kali kakiku menginjak teras rumah setelah seharian bekerja, hari sudah gelap.

Hampir dua tahun aku menjejaki hidup dengan melakukan aktivitas sehari-hari di dalam rumah. Sudah tidak ada lagi bagian rumah yang tidak aku jamah. Kamar, laptop, dan Wi-Fi adalah tiga ihwal sakti yang bisa dibilang pengganti pujaan hati. Karena kalau salah satu dari mereka tidak ada, entah bagaimana aku akan menjalani hari.

Malam selalu membuatku bersemangat, waktu terbaik untuk menamatkan satu musim serial atau menonton beberapa film. Kadang obrolan dengan kawan lewat pesan teks atau melalui suara dan video juga kembali mengisi baterai jiwaku, tidak seperti pagi yang membuatku harus kembali pada rutinitas menjemukan. Meskipun pagiku tak seindah orang lain, masih ada satu dua alasan yang membuatku tetap menaruh sepenuh hatiku pada hal-hal yang aku kerjakan.

Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang saat ini aku kejar. Mungkin untuk nilai akademis yang baik, karier yang mapan, validasi orang sekitar, atau sekadar ketenangan dan keluasan hati untuk terus menjalani kehidupan sehari-hari seperti ini.

Namun, di tengah ketidakpastian yang kini kujalani, kebijakan pemerintah yang semakin tak tak terarah dan membuat kewarasan orang-orang semakin hilang melawan wabah, kusadari bahwa keselamatan diri adalah satu yang kukejar. Aku yakin kamu juga begitu. 

4.6 8 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top