Berhenti Racik Racun Sendiri

Akhir penghujung 2018 lalu, bukan tentang gubah resolusi apalagi mencatat daftar mimpi. Saat semua orang merayakan pergantian tahun dengan hura-hura, saya justru membuat keputusan yang buat beberapa orang geleng-geleng kepala. Hari itu mengakhiri lingkaran setan yang berdampak banyak di hidup saya, yang membuat saya kehilangan diri saya sendiri dan merasakan sakit hati yang tak pernah berhenti. Mungkin memang benar bahwa memutuskan untuk meninggalkan akan sangat memberatkan hati seseorang, terlebih pada hubungan personal. 

Saya yakin sebagian orang akan bilang, komunikasi adalah kunci. Mencoba mengerti dan bernegosiasi daripada meninggalkan begitu saja tampaknya jauh lebih baik. Namun saat sebagian orang telah berusaha untuk mengencangkan tali ikatan yang ada bahkan sampai beranggapan bahwa dia baik-baik saja padahal tidak sama sekali, bukankah sebuah keputusan yang tepat untuk mengakhiri kegiatan meracik racun diri sendiri? 

Seperti cuitan Kunto Aji dalam akun media sosial Twitter pribadinya, “I lost you, but I found me.” Setelah itu semua, saya menemukan diri saya. Setahun berlalu saya lewati dengan meditasi diri sendiri. Saya mencoba berdamai pada apa-apa yang telah saya lewati, bahkan, dengan orang-orang yang banyak menimbulkan luka serta bunga di hidup saya. Saya juga membenahi konsep diri saya sendiri, memetakkan apa yang saya suka dan benci, mencari dan menemukan kondisi ternyaman diri. Mungkin terlihat seperti membangun sebuah dinasti keegoisan, tapi nyatanya self-care tak sama dengan egois. Semua yang mengacu pada diri sendiri pun tak melulu tentang egois. Ketika ada sebuah esensi lain dalam merawat diri, sebetulnya kita tidak sedang memberi makan ego. Justru salah satu perawatan diri yang baik berujung pada pengetahuan kapan ego perlu diberi makan atau dibiarkan meraung kelaparan.

Saya lantas menyadari bahwa yang saya lakukan tak sekadar memutuskan tali silaturahmi (ya tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang terjadi). Tapi ada sisi lain yang saya temui, tentang menyelamatkan diri saya sendiri yang mungkin saja akan atau sudah jadi racun bagi manusia lain, pun, menyelamatkan diri dari manusia-manusia yang seharusnya jadi obat penyembuh namun justru menjadi racun di kehidupan saya. Karena pada hakikatnya hubungan yang tercipta antara tiap manusia perlu bersinergi ‘kan? 

Kini setelah mengambil jeda setahun lamanya, saya menemukan fakta bahwa banyak dari kita terlalu sering fokus kepada orang-orang tersayang saja. Padahal yang patut didahulukan adalah diri kita sendiri. Ya, ibarat niat hati ingin berbagi, namun bagaimana bisa kita memberi sepotong roti jika kita bahkan belum memiliki roti itu sendiri? Kita sering merasa gagal, payah, dan sulit beradaptasi dengan berbagai situasi.

“Theres a difference between telling yourself that you’re not good enough and reminding yourself that there’s room for improvement.” (Amy Morin dalam sebuah artikel berjudul “7 Ways to Overcome Toxic Self-Criticsm”)

Ketimbang terus-menerus lihat kecacatan diri, kenapa tidak kita terima tiap cacat yang ada sembari menyadari proses gagal sebagai sarana perkembangan? Percayalah, perkataan Amy Morin tentang pikiranmu dapat mempengaruhi perasaan dan perilakumu benar adanya. Dalam hal ini kemungkinannya hanya dua, membangun atau merobohkan diri sendiri. 

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah kutipan dari Life Coach dan Spiritual Healer, Tammy Adam: “We surround ourselves with people that are not so good for us so that we can have a excuse of why we are miserable, sometimes miserable people are around us because it’s not a choice but it is our choice to let them effect us.

Jangan biarkan orang lain memberi efek buruk bagi diri kita. Pun sebaliknya, jangan biarkan diri kita memberi efek buruk bagi orang yang kita cinta. Semoga akan tiba waktunya kita siap memutuskan rantai kegiatan meracik racun untuk orang lain pun diri sendiri. Bertemu dengan seutuh-utuhnya diri untuk kemudian siap memberi sepenuhnya pada jiwa lain. Ingat selalu bahwa kamu berharga, mereka juga. Lepas sekarang atau mati bersama-sama.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Hendra Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Hendra
Guest
Hendra

wah, bagus bgt

Top