Belajar dari Kisah Luqman dan Anaknya

Pernahkah merasa niat baik yang kamu miliki justru dinilai buruk, ditolak, bahkan ditentang orang-orang di sekitarmu, membuatmu berpikir ternyata menjadi baik saja tidak cukup untuk bertahan di bumi ini? Sesederhana memberikan kursimu di depan pintu masuk rumah sakit kepada seorang manula, sayangnya niat baikmu ditolak karena ia lebih memilih menunggu mobil anaknya datang menjemputnya sambil berdiri, lalu kursi yang kamu tinggalkan kosong justru ditempati oleh seseorang yang lebih muda darimu dan terlihat segar bugar dan membuatmu kesal; atau ketika kamu memberikan nominal uang yang cukup besar kepada peminta-minta di jalanan saat lampu APILL warna merah menyala, tapi justru mendapatkan respons negatif dari orang yang bersamamu di dalam mobil karena ia mempunyai kepercayaan bahwa kekurangan fisik  yang dimiliki peminta-minta itu adalah palsu. Lalu pandanganmu akan baik dan buruk menjadi abu-abu. 

Saya jadi teringat akan kisah Luqman dan anaknya. Ketika itu, Luqman menyuruh anaknya membawa seekor keledai dan mengajaknya berjalan-jalan ke kota. Di awal perjalanan, Luqman menaiki keledai dan menyuruh putranya berjalan menuntun keledai. Lalu sekelompok orang segera berkomentar,  ”Anak kecil itu menuntun keledai, sedang orang tuanya duduk nyaman di atas keledai. Alangkah congkak dan sombongnya orang tua itu.” Luqman lalu bergantian dengan putranya, kini giliran Luqman yang menuntun keledai, dan putranya naik di atasnya. Mereka melanjutkan perjalanan hingga bertemu sekelompok orang lagi, ”Lihatlah, anak kecil itu menaiki keledai, sementara orang tua itu malah berjalan kaki menuntunnya. Sungguh, alangkah buruknya akhlak anak itu.”  Mereka berdua pun terus melanjutkan perjalanan. Kali ini, keduanya menaiki keledai hingga kembali bertemu sekelompok orang, ”Dua orang itu naik keledai berboncengan, padahal mereka tidak sedang sakit. Mereka mampu berjalan kaki. Ah, betapa mereka tak kasihan pada hewan,” sindir kelompok ketiga yang Luqman dan anaknya jumpai. Terakhir kali, mereka berjalan kaki bersama, sambil menuntun keledai. Mereka kembali bertemu sekelompok orang di perjalanan yang berkata, “Lihat! Dua orang itu menuntun keledai bersama, padahal keledai itu sehat dan kuat. Kenapa mereka tidak menaikinya saja? Ahh, betapa bodohnya mereka.”

Dari kisah Luqman dan anaknya yang membawa keledai, saya bisa melihat banyak hal, bahwa mustahil untuk menyenangkan hati semua orang, mustahil juga untuk mengatur pandangan baik-buruk seseorang tentang kita. Karena ada begitu banyak hal di muka bumi, begitu banyak pula manusia dan latar belakang sejarah yang berpaut padanya dan mempengaruhi cara pikirnya. Boleh jadi kita sebagai bangsa Timur berpikir bahwa menghormati adat dan budaya leluhur adalah hal yang harus terus dilakukan, tapi apakah hal yang sama juga terlintas di pikiran bangsa Barat khususnya Amerika yang lebih menjunjung tinggi segala perubahan dan teknologi? Boleh jadi perempuan cantik versi Asia adalah yang berkulit mulus, putih, bening, dan bercahaya, tapi tidak dengan perempuan di Inggris sana yang sedang terobsesi dengan warna kulit eksotis kuning kecokelatan.

Jika begitu, mengapa kita masih saja merasa perlu menjadi serupa dan memaksa orang lain juga terlihat serupa dengan kita, dengan lingkungan dan konstruksi sosial yang dibuat secara tidak sadar oleh manusia? Tentang hakikat gender dan peran berbeda perempuan dan laki-laki; tentang waktu ideal untuk lulus kuliah, menikah, dan memiliki anak;  tentang persepsi kelebihtahuan senior dibanding juniornya yang sering kali dicap sebagai anak bau kencur yang belum tahu apa-apa. 

Kemustahilan dalam menyenangkan semua orang berbanding lurus dengan meniadakan perbedaan pandangan yang juga dimiliki setiap orang, tentu saja hal ini ikut menyatakan bahwa stigma akan terus ada. Di akhir perjalanannya, Luqman berkata kepada anaknya, ”Wahai putraku! Lakukanlah hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi agama dan duniamu. Terus lakukan hingga kau mencapai puncak kebaikan. Jangan pedulikan omongan dan cacian orang, sebab tak akan pernah ada jalan untuk membuat mereka semua lega dan terima. Tak akan pula ada cara untuk menyatukan hati mereka.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top