Bagaimana Caramu Berdamai dengan Masa Lalu?

Ibarat sebuah gambar, masa lalu adalah bagian yang berwarna abu, buram yang melekat dan terasa akrab. Dulu saya mati-matian berusaha menghapusnya dari gambar milik saya, tapi malah warna abu yang timbul semakin pekat. Kini hanya berbekal sekotak tisu dan bantal, perayaan tengah malam kerap saya gelar. Justru pada malam-malam yang temaram, beberapa kenangan begitu jelas mampir di ingatan, perayaan yang membuat gambar milik saya memiliki warna seimbang.

Satu malam, pikiran saya akan pergi jauh ke lima belas tahun lalu, saat saya masih menjadi anak kecil dengan mimpi dan angan tinggi dari tontonan kartun setiap pagi. Lalu wajah anak-anak lain muncul di ingatan, lengkap dengan bisik bising dan tatapan sinis, juga warung di ujung jalan sebagai saksi bisu. Di perayaan malam lain, pikiran saya akan kembali melompat-lompat pada masa dan peristiwa. Beberapa isak menyeruak, beberapa raungan berhasil terpendam suaranya dengan bantuan bantal.

Masa-masa yang kurang menyenangkan tapi tak juga bisa dikatakan buruk. Sekalipun ada pintu menuju masa lalu tempat saya bisa memperbaiki apa yang telah lewat, dengan yakin saya akan ucap pass dulu. Biarlah saya mengamini kata sebagian besar orang tentang, “Masa lalu adalah hal yang membentukmu menjadi saat ini.”

Bagi saya, masa lalu tak akan bisa dilupakan, dia akan tetap berada di ruang bawah tanah kita masing-masing—tempat bersemayam banyak hal baik dan buruk yang telah berhasil kita lewati pun hal-hal yang secara khusus kita ingin sembunyikan. Selain itu, semakin berusaha untuk melupakan kenangan buruk sama saja dengan terus mengingatnya. Hal itu yang membuat saya menyerah untuk melawan dan mulai berdamai akan masa lalu.

Tidak mudah bagi saya untuk berdamai pada masa-masa yang tidak ingin lagi saya ulang. Tapi pada akhirnya, mempersilahkan mereka masuk ke dalam rongga-rongga malam dalam bentuk perayaan adalah cara yang saya pilih untuk berdamai dengan masa lalu. Walau diadakan secara sederhana dan diam-diam, tiap kali perayaan usai saya merasa bagian berat dari dalam diri saya sedikit demi sedikit terasa berkurang.

Saya tidak tahu mengapa perayaan malam membuat saya lebih tenang. Tetapi, mungkin karena pada hakikatnya semua kenangan ada untuk dikenang, sama seperti semua emosi yang ada patut untuk dirasakan.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Leviana Bella Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Leviana Bella
Guest
Leviana Bella

Suka dengan pemilihan kata “perayaan”

Top