Apa yang Ingin Kausampaikan kepada Kedua Orang Tuamu?

Mereka hanyalah kita yang telah menua. Mereka sama bingungnya, sama lelahnya, sama kesakitannya dengan kita. Kata-kata yang selalu saya ingat dan ucapkan kepada diri saya sendiri sesaat setelah bertengkar dengan mama atau bapak. 

Sebagai anak terakhir yang tumbuh dalam keluarga sederhana, saya hidup sebagaimana anak-anak kebanyakan di luar sana, yakni anak perempuan pemalas yang suka mengeluh dan selalu dinilai kurang jika dibandingkan dengan ayah ibu saya yang sudah hidup lebih dari setengah abad di bumi.

Saya tidak suka pada kenyataan bahwa saya adalah anak terakhir. Kamu boleh tidak setuju, karena saya juga paham bahwa ada banyak pandangan di luar sana yang mengamini tentang enaknya menjadi anak terakhir dalam sebuah keluarga. Betul saya tidak harus pusing-pusing menjadi pedoman hidup saudara saya sendiri atau tidak perlu repot menjadi mandiri karena terasa percuma kalaupun dilakukan. Sekeras apa pun saya berjuang dan menunjukkan diri saya kepada kedua orang tua, saya hanya akan dilihat sebagai bayi mungil kesayangannya.

Satu malam pada Juni tahun lalu, setelah menonton drama korea Hi, Bye Mama!, datang juga satu kenyataan pahit tentang menjadi anak terakhir. Saat ajal menjemput kedua orang tua saya nanti, sayalah yang akan menjadi satu-satunya anak mereka dengan usia termuda yang harus kehilangan mereka. Tak ada toleransi; apakah saya sudah cukup matang atau belum menjalani hidup ini, apakah saya sudah siap mereka tinggalkan atau belum, apakah seluruh pesan kehidupan yang telah mereka sampaikan kepada kakak-kakak saya sudah mereka sampaikan juga kepada saya. Kematian akan menjemput mereka pada waktunya dan meninggalkan saya sebagai seorang anak yang mungkin saja masih tak tahu arah dan tujuan dalam menjalani hidup. 

Terhalang gengsi jika harus bilang sayang atau cinta kepada mereka secara langsung. Tapi terbilang pasti saya selipkan doa untuk mama dan bapak setiap sujud. Doa agar tak putus umur dan kesehatan mereka, doa agar ada kesempatan bagi saya membalas cinta kasih yang selama ini mereka berikan, doa agar segala cerita dan kisah hidup mereka tak satu pun terlewatkan untuk bisa saya jadikan pegangan. 

Jika memang harus menyampaikannya, mungkin begini: teruntuk sepasang manusia lanjut usia yang juga pernah merasakan kebimbangan pada banyak pilihan dalam hidup, Sehat-sehat terus ya. Teruslah mengomel dan tinggal bersamaku yang lama.

4.8 13 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
dinata
dinata
3 months ago

Hallo kak Nadia, terima kasih untuk tulisanmu yang begitu hangat. Sehat-sehat ya

Styrinii
Styrinii
8 days ago

Aku baca ini, seperti membaca kisah hidupku sendiri hhahah terima kasih yaa Kak Nadia<3

Top