Adjie Santosoputro: Menengok Diri Untuk Memulihkan Batin Sendiri

Sering kali dalam kehidupan ini banyak hal terjadi tidak sesuai harapan. Mulai dari putus cinta, janji yang tidak ditepati, ditinggal pergi tanpa kabar, gagal berulang kali dalam membangun usaha, dibandingkan dengan orang lain, disepelekan orang sekitar, sampai sesederhana ketinggalan kereta di jam pulang kerja.

Dalam episode berbagi perspektif yang diunggah pada hari Selasa, 3 Maret yang lalu, Menjadi Manusia berkesempatan berbincang dengan Adjie Santosoputro, seorang praktisi emotional healing & mindfulness. Dia berbicara membagikan perspektif tentang kehidupan, khususnya kesehatan mental. Lewat media sosial pribadi, Adjie sering membagikan tulisannya tentang pemulihan batin yang dia pelajari untuk dirinya sendiri. Adjie juga berharap tulisannya dapat bermanfaat bagi teman-teman lain yang membutuhkan dan mengalami hal serupa dengan dirinya.

Untuk menjadi seorang praktisi emotional healing & mindfulness, Adjie telah mengalami rangkaian kejadian yang berhubungan dengan kondisi kesehatan mentalnya. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), Adjie sudah merasa tidak nyaman terhadap kondisi mental dan psikisnya. “Saya sangat sulit mengungkapkan isi hati saya,” Adjie sadar hal tersebut adalah akibat dari kondisi keluarga yang broken home; sebuah alasan yang membuat pribadi Adjie menjadi orang pemarah semasa sekolah dulu.

Setelah lulus dari SMA, Adjie pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi dengan mengambil studi bidang psikologi. Pilihan tersebut diharapkan mampu membantu menyehatkan mentalnya. Alih-alih meredakan kemarahan dan menenangkan batinnya, Adjie justru terus-menerus merasa gagal dan kurang karena banyaknya tuntutan sosial di lingkungan dan masyarakat sekitar.

 

“Tuntutan lingkungan dan masyarakat yang harus sempurna. Tidak ada ruang untuk gagal. Tidak ada ruang untuk mengalami kenyataan yang enggak sesuai ingin. Kita hanya dituntut untuk mendapatkan yang kita inginkan. Padahal hidup tidak hanya berisi kegembiraan, tapi juga kekecewaan,”

 

Lulus dengan predikat cum laude tidak menjadikan Adjie bahagia dan puas dengan dirinya sendirinya. Adjie bahkan beberapa kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena merasa kesal dan sebal dengan dirinya. “Terakhir kali mencoba bunuh diri saya hening, duduk diam lalu melihat diri saya menengok diri saya sendiri bahwa ego saya yang protes, bukan keseluruhan diri saya. Hanya ego saya yang marah-marah,” katanya.

Banyak dari kita memiliki perspektif bahwa jatuh dan gagal adalah proses naik kelas, begitu pula perspektif Adjie sebelumnya. Sampai akhirnya, Adjie menyimpulkan bahwa setiap kali dirinya terpuruk, dia belajar untuk turun kelas. Belajar menurunkan egonya dan belajar menemui dirinya sendiri.

Ketika ditanya apa definisi sehat mental, Adjie menjelaskan sehat mental adalah kondisi ketika seseorang bisa menerima kenyataan apa adanya. Baginya, kesehatan mental adalah perkara hidup sehari-hari dan apa yang terjadi di kehidupan setiap orang pasti tidak jauh dari dua kemungkinan, antara kenyataan yang membahagiakan atau menyedihkan. Tapi di sisi lain, saya rasa dan begitu pun Adjie berpendapat, tidak ada manusia yang menginginkan sesuatu yang sifatnya menyedihkan. Semua dari kita pasti hanya ingin sesuatu yang membahagiakan. Itulah mengapa terjadi konflik antara harapan yang dimiliki semua orang tentang sesuatu yang membahagiakan dengan kenyataan yang tidak melulu perkara yang membuat hati senang. Menurut Adjie, ketika kenyataan ternyata tidak sesuai harapan dapat menimbulkan apa yang disebutnya sebagai cedera mental.

Sebagai sebuah penyakit yang sulit terlihat, cedera mental dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang. Adjie menjelaskan, saat kita gagal, diremehkan, merasa bersalah, merasa kehilangan, mengalami penolakan, sakit hati, dan patah hati, lalu semua itu masuk ke dalam gudang batin menjadi sampah di hati yang mengendap lalu terus ditekan dan lantas penuh, bukan hanya pikiran dan hati saja yang merasakan efeknya, tetapi juga tubuh kita secara fisik. Asam lambung naik, migrain, bahu dan punggung yang sering merasa kaku dan nyeri adalah salah satu contoh efek dari adanya rasa cemas yang berlebihan. Bukan hanya itu, produktivitas kerja seseorang juga akan mengalami penurunan. Begitu pula pada tingkat kebahagiaan dan kualitas seseorang dalam menjalin relasi. Padahal berdasarkan penelitian Harvard University yang dituturkan Adjie, kunci kebahagiaan seseorang hanya satu, yaitu relasi yang baik dengan orang sekitar.

Adjie sadar betul bahwa tidak mudah untuk seseorang sampai akhirnya menerima diri mereka sendiri dengan bertemu pada sisi gelap mereka. Tapi baginya, kita semua dapat melatih diri untuk belajar mindfulness. Sadar penuh di sini-kini. Memberikan jarak pada pikiran, perasaan, dan diri sendiri yang saat ini masih terlalu melekat satu sama lainnya. Adjie menjelaskan tahap pertama untuk berlatih mindfulness adalah menguatkan otot kesadaran dengan menyadari secara penuh napas kita. Duduk dalam keheningan lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan dan berulang. Pasti sulit dilakukan untuk pertama kali, karena pada prosesnya pikiran kita akan melanglang buana entah ke mana. Tapi, di situlah inti dari latihannya, mengusahakan pikiran balik ke kondisi saat ini, ke napas yang sedang dilakukan dan membuat otot kesadaran menguat dengan perlahan. Ketika kita telah tekun melatih mindfulness dan otot kesadaran menguat, barulah sadari dan temui tiap pikiran dan perasaan yang muncul. Membiarkan diri kita sendiri tenang sebagai pengamat atas pikiran dan perasaan yang bergejolak.

“Kalo kamu merasa mentalmu secara psikis sedang tidak baik baik saja, tidak apa-apa juga. It’s okay to be not okay. Tidak perlu terlalu menyangkal dan melawan rasa sedih dan marahmu itu. Belajar untuk menerima. Belajar untuk menemui rasa sedih dan marah. Ketika merasa enggak nyaman, obrolin saja dengan teman-temanmu atau orang di sekitarmu. Dan ketika merasa itu tidak cukup, beranikan diri ke profesional.”

Menurut Adjie, saat ini banyak masyarakat yang merasa dapat menyelesaikan permasalahan mentalnya hanya dengan curhat ke orang sekitar. Tidak ada yang salah memang. Dengan bercerita dan berkeluh kesah, setidaknya kita tidak menyimpan kekecewaan kita sendirian. Tapi ada bahaya yang mengintai dari curhat yang menurut Adjie justru dapat memperburuk kondisi mental seseorang. Hal tersebut dapat terjadi ketika orang yang mendengarkan curhat kita merasa lebih suci dengan memberikan anjuran dan saran yang justru memojokkan. Padahal seseorang hanya ingin didengarkan ketika curhat, bukan dijustifikasi tindakan dan perasaannya benar atau salah. Bagi Adjie, dengan mendengarkan, kita mampu menyembuhkan seseorang.

Adjie mendefinisikan manusia dengan kata “manungsa” yang diambil dari Bahasa Jawa dengan arti yang serupa, yaitu manusia. Manungsa sendiri adalah manunggaling rasa atau kebersatuan rasa yang menjelaskan bahwa ketika ada orang lain tersakiti hatinya, kita pun akan merasa hal yang sama. Sedangkan untuk mendefinisikan menjadi manusia Adjie menjelaskan “We are not human doing, we are human being. Kita selama ini sibuk untuk berkarya, bekerja, berjuang, dan melangkah. Tapi lupa untuk menjadi manusia dulu sebelum apa-apa.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top