Tentang Jawaban atas Kerisauan

Malam kembali menjelma tanda tanya. Ia tak mengenal sudah dan mataku masih saja sulit memejam. Aku dihinggapi bayang-bayang hitam yang padanya aku mempertanyakan tujuan. Untuk alamat yang entah kapan aku bisa mencatatnya, lagi-lagi pikiranku harus dipaksa menemukan. Di sela tarikan napas yang semakin sesak, aku mencari-cari perkataan bijak, pada setumpuk buku, pada nasihat bapak ibu, juga pada ingatan masa lalu. Apakah ini semua harus tentang kebahagiaan? Apakah melulu tentang kekayaan? Atau ia harus bersama kesederhanaan?

Sementara aku terus direnggut masa, perkenalan antara aku dengan aku pun seakan tak berkesudahan. Pantulan cermin dan sorot mata yang berkali-kali aku lihat saja, mereka tetap tidak memberikan selesainya. Banyak mungkin yang aku tidak tau pasti serta deretan pernyataan yang tak sepenuhnya aku yakini. Lantas apa aku harus memahaminya lewat semesta, jagat yang tak pernah selesai dipelajari oleh makhluk bernama manusia?

Lewat dinginnya yang membuatku berselimut, angin membawakan kerinduan tentang peluk yang hampir dua tahun hilang, tentang tawa yang kini buyar terbayang dan genggam yang cukup menenangkan. Mereka ada dalam rasa, tetapi perjumpaan tetap dipaksa maya. Belum sempat kuusahakan melawan takdir, logika mengatakan bahwa beranjak sama dengan menyepakati adanya jarak, yang lebih jauh dan tidak terengkuh.

Seakan tak butuh persetujuan, kesadaranku semakin hilang. Pelan-pelan napasku berirama mengantar mimpi yang indah kusemogakan, sejenak melupakan pertanyaan-pertanyaan karena dalam diriku paham tidak semuanya harus menjadi kalimat berita. Biarkan beberapa tetap utuh dengan tanda tanya sebab jawabannya tidak perlu tergesa.

5 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top