Sudahkah Kita Berempati Hari Ini?

Mungkin petikan kalimat ini ada benarnya,

“Terkadang kamu perlu mengasah rasa empati supaya pikiranmu terbuka.”

Saya bersyukur, bahwa kita sebagai manusia, telah dianugerahi bermacam “perangkat” untuk mengatasi berbagai persoalan yang kita hadapi setiap hari. Salah satu perangkat itu adalah empati atau kemampuan emosional untuk mengerti dan memahami apa yang orang lain rasakan. Apa ampuhnya empati sehingga bisa dijadikan semacam kunci untuk menengok kembali kemanusiaan kita?

Dalam kehidupan yang penuh huru-hara ini, wajar jika kita merasa lelah. Beragam persoalan, mulai dari impian yang terbentur realitas, hasil kerja keras yang tak sesuai ekspektasi, hingga rasa muak dengan kehidupan itu sendiri adalah beberapa contoh persoalan yang tak jarang malah membunuh nilai kemanusiaan itu sendiri. Akibatnya, pikiran sehat menjadi mandek. Kita lantas meratapi nasib seakan menjadi manusia yang paling sial di dunia ini.

Dan benar, seperti halnya posting-an diskon wisata yang tiba-tiba saja muncul di beranda media sosial kita, jika sudah seperti itu, kita butuh rehat sejenak. Meskipun demikian, ada pula beberapa orang yang tak akan pernah mendapatkan kemewahan seperti itu, entah karena tuntutan realitas atau karena si Bos tak mengizinkan mengambil cuti lebih dari dua hari.

Padahal, diakui atau tidak, kita butuh lebih dari sekadar “melepas penat” karena pada dasarnya, manusia modern akan selalu membutuhkan beragam alasan atau katakanlah, motivasi yang mampu menguatkan kembali keyakinannya dalam menjalankan perannya dalam kehidupan ini. Meskipun sebenarnya saya masih penasaran dengan sebuah pernyataan, “Kita tak butuh alasan untuk melakukan sesuatu,” mungkinkah?

Nah, lalu adakah solusi alternatif untuk mengembalikan tenaga serta pikiran kita seperti sediakala? Minimal, untuk menemukan kembali “perasaan”, bahwa apa yang sedang dikerjakan memanglah mempunyai nilai tertentu. 

Ada, yakni dengan mempertajam empati. Pemaknaan empati menurut saya tak sekadar mampu mengerti dan memahami perasaan orang lain secara emosional saja, tetapi seakan-akan mampu “mengalami” secara langsung beragam kemungkinan di luar batas nyaman kita yang bisa jadi, kita tidak akan pernah sanggup andaikan berada pada posisi orang tersebut.

Meskipun ada kecenderungan, bahwa sikap ini bisa saja malah memunculkan sikap superioritas atau inferioritas atas orang lain, tetapi bukankah itu sah-sah saja selagi tidak ditunjukan secara langsung di depan orang tersebut.

Di sinilah menurut saya proses paling penting itu terjadi, alih-alih memunculkan perasaan superior atau malah merasa minder, cobalah untuk seakan-akan “mengalami” beragam kemungkinan jika seandainya saya berada pada posisi orang itu. Apakah saya sanggup? Mampukah saya memainkan perannya dalam kehidupan itu meski sesaat?

Saya pikir, jika mau sedikit saja menambahkan proses kecil itu di dalam perasaan empati kita, saya jamin akan terbuka lebar pikiran serta sudut pandang kita dalam memandang kehidupan ini. Tak perlu tempat spesial untuk sekadar “menengok” kembali alasan, kenapa saya harus bekerja keras memperjuangkan hal-hal tertentu? Bisa jadi cukup keluarga, teman atau bahkan petugas kebersihan di lingkungan rumah kita yang akan menjadi “obat” pikiran yang sempat tersendat ini.

Jadi, sebenarnya, empati sangatlah ampuh untuk menjaga kewarasan di tengah modernitas yang semakin absurd ini, apalagi di tengah kondisi pandemi yang menuntut kita harus menjaga kewarasan badan dan kewarasan berpikir. Meskipun saya tahu, tidak gampang melakukan proses ini karena seringkali ego kita lebih dominan dibandingkan dengan nurani kita, tetapi tak ada salahnya kan mencoba?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Piya
Piya
5 months ago

Kadang kita terlalu terobsesi dengan hal² besar nan luarbiasa, sampai lupa dengan hal² kecil yg efeknya besar bukan main.

trackback

[…] SebelumnyaBerikutnya Artikel ini sudah terbit melalui menjadimanusia.id (https://menjadimanusia.id/muhamad-munjin-safari-sidiq/sudahkah-kita-berempati-hari-ini/9937/) […]

Top