folder Filed in Cerpen, Sepasang, Yang Lain
Aku, Kamu, dan Cerita Patah Hati Kita
Kepada hati yang sedang terluka, biarkanlah dirimu terpuruk sampai pada titik terendahmu, menangislah jika kamu perlu.
Miranda Luftisari comment 8 Comments access_time 6 min read

“Kita akhiri saja ya hubungan ini” ucapnya. Memecah tawa yang semula terjadi diantara kita. Kita sedang berada di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai dengan para manusia. “Bagaimana ? Gimana maksud kamu ? kenapa dengan tiba tiba ?” Dia tidak menjawab pertanyaanku. Genggaman tanganku yang semula menggenggam tangannya, kini terlepas. Ia melepaskan genggaman itu, lalu berdiri dan mengambil langkah untuk menjauh dari meja yang semula menjadi tempat kita berbagi tawa. Kopimu belum habis, tapi sudah kau tinggalkan. Aku juga belum siap, tetapi sudah kau lepaskan.

Setelah itu, aku mulai untuk memberanikan diri, untuk menatap mata kamu yang mungkin hari ini penuh dengan keraguan. “Bukankah kamu sudah pernah berjanji untuk terus bersamaku ?” Tanyaku lagi seolah meyakinkan semua pernyataanmu. “Iya, kita memang pernah membuat janji untuk terus bersama, berbagi suka, duka, tawa, bahagia, kita bercerita tentang galaksi. Kamu menceritakan bagaimana hidup kamu, tetapi aku tau, janji itu kita buat sebelum “dia” hadir………”

Aku menghentikan semua pertanyaan-pertanyaam yang hadir di dalam otakku. Rasanya detik itu aku merasakan seluruh rumahku runtuh, seketika air yang semula tenang kini menjadi gelombang pasang yang menerjang. Ia melanjutkan perkataannya “semenjak ia hadir di dalam kehidupan kita, aku merasa perlahan dia membuatku menjauh dari sosok kamu. Kamu tidak pernah menunjukkan apapun lahi padaku, tidak pernah mau mengapresiasi apapun yang telah aku berikan. Sedangkan dia ? dia mampu membuatku menjadi sosok yang berharga dalam hidupku, ia mampu untuk memberikan apresiasi pada hal hal kecil yang aku kerjakan. Kamu ? kamu hanya mampu menunjukkan senyum kecil terpaksamu itu, yang aku tau terdapat banyak pertanyaan disana, tetapi tak kau tanyakan. Kau malah memilih untuk bungkam padahal seharusnya kau bisa berucap. Kau tau kan aku tidak pernah menyukai dengan kepura puraan ? kamu berpura pura tersenyum seakan akan semua hidup kamu terlihat baik baik saja, kamu tidak pernah mengapresiasi apapun yang aku berikan padamu, seperti misalnya aku rela jauh jauh datang kesini hanya untuk menuntaskan rindu, tetapi ekspresi yang aku dapatkan dari wajah kamu hanya biasa saja, tidak terlalu excited. Aku lelah” Pernyataan yang ia lontarkan seakan akan menamparku pada malam itu, ia membuat air mataku semakin menjadi.

“Aku tidak bisa menyalahkanmu. Karena selama ini aku sudah terlalu eegois, terlalu banyak meminta, terlalu sibuk dengan seluruh duniaku tanpa pernah peduli dengan hari-harimu. Selalu aku yang bercerita dan kamu hanya mendengar”. Dia melanjutkan segala perkataan perkataan itu. Aku semakin kehilangan akalku. Seseorang yang awalnya aku percaya akan memberikan sebuah kebahagiaan, nyatanya ia hanya mampu memberikan kekecewaan yang bekali kali lipat lebihnya.

Dia beranjak meninggalkan mejaku setelah perdebatan yang pada akhirnya tidak pernah bisa membuat kita kembali. Aku kembali meneguk kopiku, sembari meratapi apa saja yang baru saja terjadi dan aku berharap ini hanyalah mimpi. “AH…..SIAL!!!” aku menggerutu dengan begitu keras, “ternyata ini bukan mimpi”. Setelah malam itu, aku melewati hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit tanpa ada hadirnya lagi, tanpa ada cerita tentang hari harinya lagi. Tuhan tau, aku butuh tempat untuk bertukar cerita, tempat untuk mengeluh tentang hari haiku, tempat untuk berbagi kisah bahagia maupun sedih. Tapi ternyata, aku hanya seorang diri, bebricara pada langit langit kamar adalah sebuah keahlianku.

Suatu hari, aku bertemu sosok dia lagi di sebuah kafe yang cukup ramai ketika jam makan siang. kafe yang berada tepat di samping kantorku. Aku memesan es kopi susu yang menjadi andalan di kafe itu. Pada hari itu, aku melihat kamu tertawa terbahak-bahak dengannya. Baru kali ini aku mendengarmu tertawa dengan sebegitu lepasnya. Seketika aku tersadar, bahwa kamu tidak pernah bersikap seperti itu di hadapanku, dan kejadian lain yang membuatku bersalah adalah saat aku mulai memesankan makanan yang tidak kamu suka, aku lupa bahwa kamu tidak menyukai itu, tetapi aku tetap saja memesankannya.

Karena aku pikir kamu akan mulai menyukainya seiring berjalannya waktu. “AH BODOH!” ujarku, ternyata aku tidak tahu apa apa tentang dirimu. Bahkan wanita itu tau lebih banyak tentang kamu. Tentang apa saja makanan favorit kamu itu, kopi favoritmu, genre film favoritmu, lagu favoritmu dan bahkan dia mengetahui kemeja apa yang akan kamu kenakan pada hari senin untuk bekerja. Sebentar, dulu sebelum kamu mendekatinya, apakah kamu mengajukan biodatamu padanya ? “Ah sial! Dia selalu saja menjadi yang utama”, padahal kamu baru saja mengenalnya, kita beda kantor sedangkan kau dan dia satu kantor bahkan satu divisi. Hehe ternyata benar ya kata orang, yang jauh bakalan kalah sama yang selalu dekat. Oleh karena itu, tepat pada hari ini aku akan mengikhlaskanmu, melepaskanmu untuk dapat menemukan kebahagiaan di wanita lain itu. Ya walaupun tanpa seizinku pun kamu sudah lebih dulu berbahagia dengan wanita lain. Sudah saatnya untukku tidak bersifat egois, kali ini aku yang akan membuatmu berbahagia. Aku akan melepaskanmu demi sebuah kebahagiaanmu.

Hari itu kamu melihat kearahku, berjalan menghampiriku dan meninggalkan sebentar wanitamu sendirian di mejanya, kamu bergerak maju mendekatiku dan aku mengangkat tangan untuk memberi aba aba pada kamu agar mengehntikan langkah itu. Lalu aku menarik nafas dalam dalam, agar seluruh hujan yang aku bendung sebelumnya tidak tumpah ruah. Aku tidak ingin membuatmu semakin merasa bersalah dan memkasakn dirimu untuk terus meminta maaf kepadaku. Aku tau pada malam itu kamu sungguh emosi, tidak masalah bagiku kamu berbicara kasar malam itu. Karena aku tahu, semua yang telah kamu utarakan
adalah apa yang telah aku perbuat, dengan jarak yang lumayan dekat aku mengucapkan kata perpisahan terakhir padanya “terima kasih sudah pernah menjadi bahagiaku. Kali ini, biarkan aku yang membuatmu berbahagia dengan kepergianku”.

Lalu aku beranjak untuk meninggalkan cafe itu dengan es kopi susu yang ada di genggamanku dan dengan tatapan dia yang seolah ingin melepas kepergianku dengan pelukan terakhirnya.

Kepada hati yang sedang terluka, biarkanlah dirimu terpuruk sampai pada titik terendahmu, menangislah jika kamu perlu. Karena menangis adalah hal yang sangat paling manusiawi. Tidak masalah jika menangis adalah hal yang membuatmu tenang dan bisa lepas dari segala penat. Tapi ingat, apakah diri kamu mau untuk selalu berada pada titik paling terendah kamu bukankah manusia mempunyai hak untuk berbahagia? malam ini aku sudah memilih untuk berbahagia. Membahagiakan diri sendirri dan melepas dia untuk kebahagiaannya bersama yang lain. Ikhlas untuk merelakan seseorang yang pernah bersama memang sulit, tetapi percayalah setelah diri kamu ikhlas akan apa saja yang terjadi, semuanya akan berubah, tidak ada lagi tangis, luka dan yang ada hanya harapan harapan yang baru serta kebahagiaan yang menanti di depan sana, bersama orang yang mampu tau kapan kamu lelah, kapan kamu ingin menyerah.

Terbiasalah untuk berbahagia, jadi ketika diri kamu terluka, kamu tak perlu bersedih, karena diri kamu tau cara untuk berbahagia. Karena diri kamu lah pengendali terbesar untuk hati kamu. Tidak apa patah hari ini, esok hari kamu harus tumbuh untuk menjadi tunas tunas yang baru. Mencari potongan puzzle kehidupanmu kembali. Lalu di hadapkan pada beberapa keadaan yang begitu lucu.

Berikan jeda pada hatimu untuk merasakan patah yang begitu patah. Selamat menikmati patah hatimu hari ini, tetapi ingat “ESOK KAU HARUS BERBAHAGIA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Terimakasih untuknya yang masih mau aku perjuangkan.
    Tak akan ku lepaskan, tak akan ku ikhlaskan, sampai namamu masih belum terdaftar di KUA.

  2. Sepertinya, kita harus belajar bersyukur dari sebuah perpisahan.
    Sepertinya, esok akan berbeda dari kemarin.
    Kemarin kita saling mendoakan, esok biarkan aku berdoa untukku sendiri.