Untukmu yang Telanjur Muak dengan Rencana

Bagaimana kabarmu hari ini? Bukankah kemarin kamu begitu bahagia, dengan rencanamu: tempat yang akan kamu kunjungi, perjalanan yang akan kamu rekam, dan teman yang akan kamu bawa ikut serta? Ke mana perginya itu semua? 

Semuanya tidak sesuai rencanamu, ya? 

Kamu tahu, aku pun begitu muak dengan rencana. Seakan indah jika dibayangkan, nyatanya begitu perih di kenyataan. Bayangkan saja, ketika semua rencanamu telah matang dan siap berjalan, rupa-rupanya hasilnya pun tak lebih daripada angan atau bahkan secercah harapan jika hari ini bukanlah kenyataan yang patut disesalkan. Betapa menyesakkan. 

Kemudian, kamu menertawai dirimu atas betapa buruknya nasib setiap rencanamu. Benar, kamu sudah mengalaminya beberapa kali. Awalnya hanya berpasrah, berharap selanjutnya tak ada masalah, tapi semakin lama malah semakin tak paham apa maunya semesta. 

“Kapan berhasilnya?” pikirmu. 

Untukmu, kita sama-sama mengerti bahwa kita tetaplah manusia. Manusia yang dibiasakan atas pahitnya rencana. Bagaimanapun juga, rencana tak pernah lepas dari dua kemungkinan, berjalan atau harus dihentikan? Dan itulah sebabnya kita perlu membuat rencana dan memaksa diri kita untuk tak terlalu mengharapkannya. 

Kamu akan lelah, jika kamu terus memikirkan kapan rencanamu berhasil dan selalu membangkitkan memori ketidakberhasilan itu. Sebab itulah, aku di sini ingin mengajakmu berpikir positif. Apa yang akan kamu baca tidak akan memberimu kepastian kapan atau bagaimana caranya agar di depan selalu berhasil. Tapi, percayalah, kamu akan merasa lebih tenang setelah ini. 

Untukmu, tarik napas dan embuskan setenang mungkin, jangan tergesa-gesa. Selanjutnya, coba ulangi beberapa kali, sampai kamu merasa tenang. Ingat, kamu tidak perlu membangkitkan memori apa pun sekarang. Kamu hanya perlu tenang. Kalau air matamu memaksa turun, turunkanlah. 

Bagaimana? Sudah tenang? Sekarang ulang-ulang kalimat ini di kepala maupun lisanmu. 

Aku memaafkan semua kegagalan rencana-rencanaku. Aku memaafkan semua penyebab gagalnya rencanaku. Dan aku memaafkan semua gelisah dan amarahku setiap aku kecewa pada kegagalan rencanaku. Aku percaya, ini hanya sementara, selanjutnya tak akan ada lagi kegagalan. Aku percaya, aku adalah manusia yang diajarkan untuk merasakan kepahitan sebelum merasakan manisnya keadaan. Maka, jika hari ini keadaan begitu pahit, aku yakin, besok adalah waktunya aku merasakan manis, dalam rencana maupun keadaan.

4 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Nadia Halimah
Nadia Halimah
12 days ago

that’s so great! keep going miftha💙

Top