Merenungi Hari Perempuan Sedunia di Tengah Maskulinitas Kapitalistik

Yang perlu dilakukan bukan memaksa perempuan menyesuaikan diri dengan sistem dan tolok ukur keberhasilan yang maskulin.

Merenungi Hari Perempuan Sedunia di Tengah Maskulinitas Kapitalistik

Yang perlu dilakukan bukan memaksa perempuan menyesuaikan diri dengan sistem dan tolok ukur keberhasilan yang maskulin.

06/03/2026

Saya hidup memang belum lama-lama banget, tahun ini masih menjadi awal tahun saya menginjakkan kaki di umur 30. Banyak yang bilang tahun ini adalah tahun ketika seseorang memilih mana jalan hidup yang paling sesuai dengan bagaimana dia diciptakan. Saya sendiri sangat sadar akan hal itu. Terlebih lagi jika saya melihat ke belakang, saya melihat perubahan dari cara saya melihat diri saya dan dunia. Banyak fenomena dunia yang tidak mengenakkan terjadi, dan itu membuat saya gelisah lalu mencoba melihat ke dalam diri saya lagi. Bagaimana kita hidup seharusnya?

Ada banyak hal yang saya renungkan. Di tulisan ini saya khususkan untuk membahas tentang perempuan ketika dunia sibuk dengan label women empowerment, gender equality, alpha women, feminism, dan sebagainya.

Sebelum menjelaskan satu per satu, saya mau bilang bahwa dari hasil observasi dan menurut pandangan saya, gerakan dan label-label di atas itu terbentuk atas adanya sistem patriarki yang berlebih dalam kehidupan kita, menyebabkan ketimpangan, dan perempuan sering tidak kelihatan atau tidak dianggap penting. Perempuan diharapkan bersanding untuk berambisi sekuat kebanyakan laki-laki supaya bisa menaklukan hidup. Perempuan harus bisa menyuarakan pendapatnya secara besar-besaran supaya terlihat sebagai alpha woman. Yang dinilai sebagai kesuksesan untuk perempuan adalah ambisi dan kevokalan untuk bisa bersanding dengan laki-laki. Saya di sini tidak membahas soal diskriminasi dan juga hak perempuan, tapi mau mengajak untuk melihat bagaimana perempuan seharusnya menjalani hidup.

Dulu, saya melihat perempuan-perempuan yang vokal, ambisius, berkarier tinggi, atau memiliki perusahaan adalah gambaran wanita sukses, dan melihat perempuan yang memilih sebagai ibu rumah tangga itu adalah perempuan yang tidak berambisi dan tidak sukses. Ternyata saya hanya melihat dunia dengan kacamata yang sempit.

Saya mencoba melihat kehidupan dari sudut yang berbeda. Dalam diri setiap manusia sebenarnya ada dua energi yang berjalan berdampingan; energi feminin dan energi maskulin. Energi feminin sering diasosiasikan dengan kelembutan, intuisi, kemampuan mengasuh, serta ritme emosi yang naik-turun, atau biasa dibilang moody. Namun energi ini tidak hanya dimiliki oleh perempuan, tetapi laki-laki juga memilikinya. Begitu juga sebaliknya. Jika kita melihatnya dari perspektif ini, relasi antara perempuan dan laki-laki seharusnya tidak dilihat sebagai kompetisi siapa yang lebih kuat, melainkan sebagai dua energi yang saling melengkapi. Complete, not compete.

Sebagian narasi gerakan gender equality diperjuangkan dengan cara yang maskulin kapitalistik. Saya jadi sering melihat kefrustrasian perempuan untuk bisa hidup di zaman modern ini. Perempuan sering kali menanggung tekanan dan ekspektasi dari sistem yang bertabrakan. Perempuan mengemban standar ganda, secara budaya lama dituntut untuk bergerak dengan lembut, sabar, ga egois, ngemong, dan berempati; sekarang dituntut juga untuk berambisi, produktif, mandiri, punya karier. Sering kali jadi menimbulkan pikiran “kalau fokus ke karier, jadi kurang perempuan”, atau “kalau fokus di rumah, jadi kolot”. Standar ganda ini membuat perempuan menjadi lelah.

Selain itu, karena narasi tersebut lebih banyak mengukur keberhasilan dengan kecepatan, kompetisi, growth, dan menilai seseorang karena kevokalan dan keambisiusannya, perempuan lantas kesulitan untuk berekspresi dan akhirnya mengikuti mana yang dilihat bermakna buat dunia. Makin lama, makin jauh dari apa yang seharusnya menjadi dirinya, lalu frustrasi. Lelah karena melawan batin diri sendiri. Lagi-lagi, perempuan lelah karena tidak menjalani apa yang sebenarnya sesuai dengan dirinya.

Saya coba melebarkan perspektifnya sedikit. Mungkin, cara gerakan women empowerment untuk mewujudkan gender equality sering difokuskan pada hal eksternal, dan melupakan yang fundamental terlebih dahulu: keadaan internal, yaitu diri sendiri dan juga keluarga. Di dunia yang patriarkis, kehidupan rumah tangga seperti sebuah hierarki yang menempatkan laki-laki di posisi tertinggi, perempuan di bawah dengan peran supporter.

Padahal, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki peran penting dengan kemampuan yang berbeda. Banyak yang bilang bahwa perempuan itu penjaga moral, nilai, pengetahuan, dan yang mengarahkan ke mana keluarga itu mau dibawa. Tapi, peran perempuan di rumah atau peran sebagai ibu sering direduksi menjadi “pengurus rumah” yang dinilai sebelah mata ketika sebenarnya perannya berharga untuk keberlangsungan sebuah generasi. Patriarki membuat urusan domestik dilihat sebagai urusan yang hanya dilakukan oleh perempuan, padahal itu adalah urusan yang harus dilakukan semua orang, ga peduli gendernya. Dalam keluarga, peran ibu dan bapak sama-sama penting untuk membangun sebuah keluarga. Apabila tanggung jawab domestik itu dibagi secara setara, sebuah keluarga bisa menjadi seimbang dan solid. Di sini, perempuan bisa berpikir lebih lega untuk menentukan pekerjaan dan ambisi yang dipilihnya, serta membentuk kehidupan yang selaras.

Kita melihat, di dunia pekerjaan, perempuan dituntut untuk berkarier karena sudah diberikan hak yang setara untuk bisa bersanding dengan pekerja laki-laki. Tapi bagaimana jika perempuan itu lebih merasa bermakna untuk membangun kehidupan sebagai ibu dan memilih untuk di rumah bersama anak-anaknya supaya anaknya kelak bisa menjadi manusia yang baik? Apakah perempuan itu tidak ambisius? Menurut saya, sama-sama ambisius. Kehidupan sekarang juga sering kali mereduksi makna pekerjaan sebagai sebuah karier dalam korporasi, atau sistem yang memberikan uang, padahal menjadi ibu juga sebuah pekerjaan, pekerjaan yang sangat berharga sampai tidak bisa dinilai dengan uang. Dan kalau ada perempuan yang memilih untuk berambisi di tangga korporasi, ya sama-sama berharga. Balik lagi, semua tergantung dengan misi hidup masing-masing.

Jika dunia ingin benar-benar melihat perempuan berdaya, mungkin yang perlu dilakukan bukan memaksa perempuan menyesuaikan diri dengan sistem dan tolok ukur keberhasilan yang maskulin, tetapi memberi ruang bagi perempuan untuk hidup selaras dengan dirinya sendiri.

Levina Purnamadewi

An observant who questions a lot about life, Co-founder & The Soul of Menjadi Manusia.
  • An observant who questions a lot about life, Co-founder & The Soul of Menjadi Manusia.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga