folder Filed in Cerpen, Sekitar, Yang Akan, Yang Harus
Utopia
Kotaku adalah utopia, daerah paling digemari di seluruh dunia. Kalau suatu kali kamu singgah, percayalah padaku, kamu tidak akan menemukan masalah.
Mercy comment 0 Comments access_time 3 min read

Februari 2020

Kotaku adalah utopia, daerah paling digemari di seluruh dunia. Kalau suatu kali kamu singgah, percayalah padaku, kamu tidak akan menemukan masalah. Di kotaku tak ada polusi udara, tak ada antrian panjang kendaraan, tak ada sampah berserakan, bahkan tak ada kerumunan massa yang membuat kebisingan. Bahkan kalau kamu mau kutemani pergi ke gorong-gorong kota, tak akan ada rumah kumuh atau anak-anak yang tak sekolah. Semuanya berjalan seperti impian para presiden di pidato pelantikan mereka.

Kotaku adalah utopia, daerah paling digemari di seluruh dunia. Di sini semua orang jadi sorotan, dan dewan-dewan kami banyak yang naik jabatan. Anak-anak kecil yang kamu temui di jalan akan tersenyum lebar menyapa, dan para lansia dengan tenang menghabiskan hari di panti jompo yang tersedia. Kalau kamu masih ingin singgah, akan kuantarkan kamu ke salah satu taman yang luasnya hampir setengah kota. Di sana ada danau dan hutan kecil yang rimbun, rumput segar dan hewan-hewan yang berkeliaran minta diperhatikan. Kamu dan aku bisa duduk-duduk di mana saja sambil menyantap buah-buahan atau mungkin roti bundar.

 

Lima tahun lalu, kotaku menjadi sorotan karena hal yang sebaliknya: kami tak punya apa-apa dan hampir terpuruk secara perekonomian. Para petinggi gelisah dan rakyat tak bisa duduk tenang, orangtua mulai cemas dan para pekerja khawatir akan masa depannya. Semua orang mondar-mandir sepanjang hari, merancang upaya penyelamatan diri andai-andai memang semuanya akan segera berakhir. Pokok semuanya adalah kas: kami tidak mengelola, tidak memperoleh, dan bahkan tidak memiliki kas. Semuanya kandas.

Kemudian digagaslah rapat kota, dipimpin oleh warga yang dituakan. Hal ini bukan pertemuan kedinasan, melainkan murni sebuah upaya perumusan kesejahteraan semua insan.

“Mau kemana kita bawa kota ini?”

“Kita tidak bisa terus memikirkan makan sendiri. Yang kaya akan kenyang namun lama-lama sumber daya akan habis!”

“Kita tidak bisa terus memikirkan makan sendiri. Yang pandai tetap bekerja namun banyak orang menganggur sepanjang hari!”

“Dampaknya kriminalitas. Sepandai dan sekaya apapun tak ada jaminan aman.”

“Dampaknya kebodohan. Gaya hidup yang sembrono tak membuat kita memikirkan cita-cita.”

“Mau kemana kita bawa kota ini???”

 

Dan utopia ini didirikan atas kemiskinan. Kemiskinan yang membuat kami memilih mendaur ulang sampah untuk menghemat pengeluaran, sekaligus meminimalisir ongkos pengelolaan sampah masyarakat. Kemiskinan yang membuat kami berjalan kaki karena tak ada biaya untuk bensin, dan pajak kendaraan cukup menguras saku. Kemiskinan yang membuat kami membangun rumah-rumah mini, tak perlu mewah yang penting menyenangkan. Kemiskinan yang membuat kami senang berkunjung ke taman hidup tanpa tiket masuk. Kemiskinan yang membuat kami saling bertukar bahan baku untuk makan dan minum. Kemiskinan yang membuat kami bersekolah sungguh-sungguh, karena mengulang kelas adalah pemborosan biaya yang tak perlu. Kemiskinan yang membuat kami padu, karena kami percaya kemiskinan tidak bisa disamakan dengan kemelaratan.

Kotaku adalah utopia, daerah paling digemari di seluruh dunia. Orang-orang menilainya sebagai daerah tanpa masalah, tetapi aku akan lebih senang menyebutnya sebagai: daerah yang berawal dari masalah. Dan yang kami lakukan bukan menyelesaikannya, melainkan memanfaatkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment