Tumbuh di Pekarangan

Ada yang tumbuh di pekarangan hatiku, dengan jantung yang berdetak dan rindu yang menggelegak. Bukannya aku pernah berjumpa dengannya, tapi ada seutas erat yang menghubungkan hidupku dengan hidupnya. Kami bernapas dengan hirup yang satu, bergerak dengan langkah yang padu, dan belajar dengan pandang yang baru. Jiwa ini terkurung dalam rahimku yang resah–seberapa kuat aku menanggungnya dengan diri yang renta? Membayang-bayangkan waktu yang akan datang seperti menonton film buram, diriku dan dirinya bergandeng tangan lalu berpisah. Ah, waktu-waktu yang menyakitkan. Namun masih, jiwa ini terkurung dalam rahimku yang gundah. Berbahagialah, nak!

Semakin pacu ia bertumbuh, semakin ramai ribuan cinta di pekarangan hatiku. Berseliweranlah ratus ribu kata-kata tak terucapkan, baik pujian haru sampai larangan posesif seorang tua, yang sedang kupilah-pilah. Dengan seorang diri aku berdiskusi ke mana saja nanti ia aku izinkan menghabiskan malam, dengan siapa saja aku akan mengenalkannya, selama berapa lama aku bisa mengantar-jemputnya, dan akankah ia hadir di pemakamanku kelak?

Ada yang tumbuh di pekarangan hatiku, dengan ricuh yang menggebu dan sayang yang berlabuh. Sembilan bulan lagi, bahkan mungkin tak sampai sembilan bulan lagi, ia akan berlarian di pekarangan rumahku.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top