Tetap Menjadi Manusia

Hari ini, aku sedang duduk berjemur bersama adikku di lapangan basket depan rumah. Demi menjaga daya tahan tubuh, kami melakukan semua yang dianjurkan dokter-dokter di televisi: makan sayur, cuci tangan, berjemur, dan mandi dua kali sehari. Mandi, dua kali sehari! Buat kami, mandi padahal tidak pergi ke mana-mana itu cukup aneh. Kami jarang sekali mandi saat liburan. Tapi, demi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia, kami akan mandi dan tetap di rumah

“Ce…,” adikku mulai bertanya. Aku tahu dia tidak pernah tahan diam terlalu lama. “Cece seneng enggak kita sekolah di rumah dua minggu?” 

“Seneng,” jawabku singkat. 

“Hmmm, Cece enggak bosen, gitu?” 

Aku sudah menduga pertanyaan ini akan ia lontarkan. Karena itu aku terkekeh. “Enggak, dong. Cece suka sendirian. Jadi bisa ‘isi bensin’, ngelakuin hal-hal yang Cece suka.” 

“Aneh,” katanya sambil geleng-geleng. Aku tertawa lagi. 

“Adek tuh bosen banget, boseeennn banget! Ya ampun. Enggak ada temen main, enggak ada temen ngobrol. YouTube aja ngomong sendiri terus, enggak bisa dijawab. Adek lebih seneng kalo enggak sendirian!”

Sambil terkekeh-kekeh, sebetulnya aku kasihan juga dengannya. Buat para penyendiri yang selama ini terperangkap dalam keramaian (seperti aku!), justru waktu jeda ini begitu melegakan. Seribu satu kegiatan sendiri sudah terpikir di kepalaku. Makan kue, nonton film, membaca buku, menulis puisi, membuat video, memasak, mandi, berdandan, dan lain-lain. Tak dielakkan juga bunga-bunga rindu akan berkembang, tapi seorang penyendiri sanggup menabungnya sampai nanti. Aku tidak terlalu tertekan dengan kebutuhan bersosialisasi.

Tapi, buat adikku dan mungkin juga semua ekstrover di luar sana, pasti melelahkan kalau harus tinggal beberapa waktu di rumah saja. Mungkin mereka ingin nongkrong di warung indomie, atau nonton bareng teman-teman satu geng, atau minimal duduk-duduk saja sambil mengobrol. Bisa saja mereka begitu tertekan karena tidak ada yang mau mendengar cerita tentang mereka yang memberi makan kucing atau tertidur di sofa ruang tamu. 

“Emangnya kita begini, biar jadi apa?” Tanya adikku. 

Biar jadi apa? Hmmm. Menurutku, tetap di rumah justru menjaga kita agar tidak menjadi apa-apa. Tidak menjadi pembawa virus, tidak terinfeksi virus, tidak meresahkan orang-lain yang belum terkena virus. Semua yang kita jalani adalah supaya kita tidak menjadi apa-apa dan tetap seperti sediakala. Sehat, kuat, siap melakukan apa pun!

***

Pertanyaan tadi membawaku kepada suatu perenungan pribadi. Mungkin, kebanyakan yang kita lakukan selalu dilatarbelakangi dengan motif ‘supaya jadi apa’. Anak-anak pergi sekolah untuk jadi pintar, orang-orang mau bekerja supaya jadi kaya, perempuan-perempuan merawat diri supaya jadi cantik, bapak-bapak berolahraga supaya jadi gagah, seniman berkarya supaya jadi terkenal, dan sebagainya, dan sebagainya….

Tapi, kenapa lagi kita harus menjadi sesuatu? 

Ketika berkaca, sepertinya tidak ada yang salah dengan diriku. Aku diciptakan utuh! Tidak kurang pintar, kurang kaya, kurang cantik, kurang gagah… Aku dan diriku sudah cukup sebagaimana adanya aku. 

Mungkin justru, semua yang kita lakukan adalah supaya kita tidak menjadi apa-apa. Tetap menjadi diri sendiri. Tetap menjadi manusia. Bersekolah, supaya kita tetap rendah hati dan mau berbagi walaupun ilmu sudah bertambah. Bekerja, supaya tetap berdampak dan mengasihi walaupun sudah ada hal lain yang dikerjakan. Merawat diri, supaya tetap bersih dan rapi walaupun lebih dewasa berarti lebih banyak yang harus dipikirkan. Berolahraga, supaya tetap sehat dan kuat walaupun kebiasaan baik sudah banyak yang terlupa. Berkarya, sebagai bentuk mengabdi dengan apa pun yang sudah kita miliki. Melakukan segala sesuatu supaya tetap menjadi diri sendiri yang semakin utuh sejalan dengan waktu. 

“Maybe the journey isn’t so much about becoming anything. Maybe it’s about un-becoming everything that isn’t really you, so you can become who you were meant to be in the first place.”

Paul Coelho

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top