Orang-orangan Sawah yang Bisa Bicara

Tidak ada orang-orangan sawah yang bisa bicara, memang, tapi di dunia kita yang fiksi ini, mari kita ciptakan sebuah orang-orangan sawah seperti itu. Ia bisa bicara, dan tentu saja bisa mendengar, namun ia tetaplah orang-orangan sawah yang dikendalikan manusia lain gerak-geriknya. Kepalanya bisa ditarik dengan tali dari pondok di tengah sawah, agar tugasnya mengusir burung dan hama tetap berguna. Pakaiannya dari jerami kering dan kaus usang, kadang-kadang ditambah topi lebar sebagai pemanis.

Ia adalah orang-orangan sawah, tapi ia bisa bicara.

Aku menciptakan orang-orangan sawah ini bukan tanpa alasan. Sudah dua bulan aku pulang ke kampung halaman, meninggalkan pekerjaan serta keramaian di kota. Masa ini, wabah merajalela di kota yang padat penduduk. Sakit penyakit ditularkan dari satu manusia ke manusia lain yang duduk berkerumun. Kehebohan terjadi. Pandemi. Usulan untuk menutup tempat umum. Anjuran untuk tetap di rumah. Pemangkasan karyawan. Kesendirian.

Aku akhirnya pulang ke kampung.

Setelah dihantui kebosanan dan risau berminggu-minggu, pulang ke kampung terasa menenangkan. Di tengah hijau sawah dan pegunungan, orang-orang sini ramah menyapa walau berjauh-jauhan. Aku masih bisa bekerja membantu bapak menjaga sawah, dan di sinilah aku menciptakan orang-orangan sawah itu untuk menemaniku bicara.

“Jadi… antara kota dan kampung, kaupilih mana?” Katanya.

Semilir angin menerpa wajahku. Pertanyaan yang barusan itu sebetulnya sudah lama aku pikirkan. Setelah berpikir-pikir sejenak, aku menjawab, “Sejujurnya, aku jauh lebih menyukai kampung ini.”

“Kenapa?”

“Udara kampung segar, orangnya baik-baik. Ada bapak dan ibu juga di sini. Aku lebih suka bekerja membantu mereka di sawah daripada jadi pegawai.”

“Lalu kenapa masih di kota?”

Aku merenung kembali, berpikir-pikir sejenak. Pertanyaan ini juga sudah lama bergantung di kepalaku. “Siapa tak suka ke kota? Segala sesuatu terang-benderang, menarik hati.”

“Kau senang tinggal di sana?”

Aku menggeleng. “Aku kelelahan.”

“Untung saja kau pulang.”

Aku tidak menjawab. Orang-orangan sawah itu bergoyang-goyang ditiup angin, memutar kepalanya ke berbagai arah seperti boneka yang diguncang anak balita.

“Apakah kau akan pergi lagi?”

Orang-orangan sawah itu kembali bertanya, menanggapi diamku. Itu pertanyaan yang juga selalu ditanyakan oleh bapak ibuku.

Aku mengembuskan napas, sekali lagi berpikir-pikir, lalu menjawab. “Kalau aku pergi, aku akan bisa jadi orang besar. Bergaul di kota, bekerja, bertamasya. Kalau aku di sini, aku tidak jadi apa-apa.”

“Kau jadi kau. Apa masalahnya?”

”Begini terus? Tidak berubah?”

“Kau ‘kan akan jadi tua. Bapak ibumu juga menua. Lalu sawah menguning, sawah menghijau. Musim kering, musim penghujan. Di kampung ini, semuanya berubah tanpa kausadari.”

Aku mengedikkan bahu. Orang-orangan sawah ini tidak pernah ke kota, tidak pernah melihat siklus kehidupan yang jauh lebih menantang daripada sekadar perubahan iklim dan cuaca. Aku membayangkan kemungkinan-kemungkinan menarik yang bisa saja aku alami di kota, seandainya aku tak berhenti berusaha. Diangkat jadi pemilik perusahaan, menjalankan bisnis, berteman dengan orang-orang elit, punya rumah dengan kolam renang dan garasi mobil yang besar-besar ….

Sambil termenung aku menghitung-hitung dengan jari, kira-kira berapa lama semua itu akan tercapai. Kira-kira berapa lama aku harus bekerja dalam satu hari, berapa hari dalam satu minggu? Aku menengadahkan wajah, memandang hamparan sawah yang luas terbentang. Kira-kira, berapa tahun lagi aku harus pergi dan bertualang, mengintai bayangan yang hendak aku dapatkan?

Bagai mendengar pikiranku, orang-orangan sawah itu bertanya lagi. “Kau senang hidup di kota?”

Aku menggeleng. “Tidak, aku kelelahan.”

“Untung saja kau pulang,” katanya.

3.6 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top