Mimpi Plastik

Manusia selalu punya mimpi. Entah dalam bentuk bunga tidur atau khayal di siang hari, mimpi itu nyata dan mengiringi. Sejak kita kecil sampai beranjak dewasa, mimpi-mimpi kita beranak pinak dan hilang gugur silih berganti.

Aku melihat mimpi-mimpi yang terkubur amat dalam, hancur lebur bak sampah organik yang segera akan baur diurai jasad renik. Mimpi-mimpi ini kelak akan menjadi pupuk, menumbuhkan mimpi baru, untuk kemudian begitu saja lalu.

Ada banyak mimpi-mimpi organik yang diobral di pasar swalayan. Pekerjaan-pekerjaan bertitel megah, dengan bayang-bayang harta kekayaan yang melimpah–mimpi organik adalah mimpi yang dianjurkan pemerintah. Di tengah musim paceklik yang mencekik, kita bergantung pada mimpi, karena dengannya kita punya harapan.

Harapan?

Namun aku cuma punya mimpi plastik, yang utuh di dalam tanah. Dibuatnya mikroorganisme tak berkutik, miliaran tahun tetap utuh berjaya. Mimpi-mimpiku tahan peluru dan tak takut pada waktu. Bahkan seribu risau, tak akan membuatnya lesu.

Mimpi-mimpiku ini dari plastik, tak akan bertumbuh dan tak subur. Namun dia kukuh berjuang, tak lekas mati.

4.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top