Menjadi Tak Terlihat

Tadi siang, aku mengisi sebuah survei menarik tentang kekuatan super apa yang akan kamu pilih andaikan kamu menjadi superhero. Pilihannya ada banyak: membaca pikiran, teleportasi, kecepatan super, dan macam-macam lainnya. Menjadi tak terlihat adalah pilihanku, dan ternyata, bukan hanya aku. Sebagian besar responden juga memilih untuk menjadi tak terlihat, andaikan itu mungkin. Ada banyak sekali survei senada dilakukan di mana-mana, namun menjadi tak terlihat selalu menjadi kekuatan super yang kuidam-idamkan.

Berkaca pada pendapatku secara pribadi, menjadi tak terlihat adalah pilihan egois nan memerdekakan. Opsi itu memberi kemungkinan kita melakukan berbagai macam hal, atau bepergian ke berbagai tempat, tanpa “terlihat”.

Tapi, apa masalahnya dengan menjadi terlihat? Pertanyaan itu mungkin muncul di benak orang-orang. Menjadi terlihat berarti kita hadir, eksistensi kita nyata dan diakui. Menjadi terlihat berarti menyediakan diri kita untuk dinilai dari penampilan luar, semata-mata bergantung pada nilai norma masyarakatnya. Menjadi terlihat berarti mendapat perhatian, mendapat perhatian berarti menggantungkan harapan, menggantungkan harapan berarti ekspektasi yang tinggi dan juga kecewa yang parah sekali.

Kekuatan super menjadi tak terlihat sepertinya akan jadi jalan keluar terbaik—ketika dunia berputar, kita tetap bisa hadir namun tak lagi diikuti.

Lalu ketika orang lain tak bisa melihat kita, apakah kita tetap bisa melihat diri sendiri? Di sini ada kontroversi antara dunia nyata dan dunia kartun. Di kartun, kita tetap bisa melihat diri kita lewat bayang-bayang maya yang tembus pandang namun jelas batas-batasnya. Beberapa kartun bahkan menunjukkan seseorang yang menghilang tak bisa menghilangkan serta aksesori yang mereka kenakan, sehingga tampaklah hantu pakaian-pakaian berjalan tanpa tuan. Di dunia nyata, rasanya hal itu tidak masuk akal. Kemampuan mata setiap orang adalah kurang lebih sama. Maka, apabila ada satu entitas yang mungkin menjadi transparan, mata kita sendiri pun seharusnya tak bisa melihatnya.

Konsekuensi yang mungkin terjadi kini seolah sama besar dengan keuntungannya. Ketika kita kehilangan kemampuan untuk mengenali diri, kita juga kehilangan kemampuan untuk mengapresiasi diri sendiri bagaimanapun baiknya penampilan kita, kehilangan kesempatan untuk menerima atensi dan kasih sayang, sampai akhirnya muncul keraguan apakah kita ini nyata atau maya.

Aku pernah begitu ingin menjadi tak terlihat. Temaram seperti cinta, tembus pandang seperti bola mata. Namun sepertinya aku bukan orang yang tepat untuk betul-betul mengalaminya karena kasih terhadap pribadiku sesungguhnya melebihi harapan untuk menjadi entitas yang berbeda lahiriahnya.

Seorang penulis yang lebih baik dariku pernah menyatakan, “Justru ketidakpuasan saya sama diri saya, ketidakmampuan mencintai diri dan hidup saya, kemarahan-kemarahan saya akan hal-hal di sekitar sayalah yang membuat saya hari ini bisa terus menulis dan bisa kalian kenal.”

Justru ketidakpuasanku kepada diriku, ketidakmampuanku mencintai, dan kemarahan—kemarahanku pada berbagai hal lah yang membuat saya bisa terus menjadi manusia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top