Membantah Stigma

Kepada perempuan-perempuan dari etnis Tionghoa sepertiku, ada stigma keliru yang melekat sejak dulu. Kalau tidak terlalu pesolek, perempuan Tionghoa akan jadi terlalu dominan. Astaga! Pilihannya hanya dua: istri penurut nan cantik yang boros setengah mati, atau encik-encik lincah yang pintar cari uang tapi galak dan tak asyik. Stigma itu melekat begitu kuat sampai seorang lelaki merasa perlu berpesan kepadaku, “Jangan terlalu dominan, jangan terlalu cantik, seorang calon istri yang pantas cuma harus manut pada suami.”

Tentu saja, aku marah. Segudang hipotesis sanggup aku muntahkan untuk membantah stigma itu. Aku tidak bisa mengelak kalau memang ada perempuan-perempuan Tionghoa yang berkepribadian seperti yang mereka bilang–tentu saja kita tidak menyalahkan mereka—tapi tidak semuanya bisa dianggap sama!

Namun, pembaca, izinkan aku memperkenalkan kalian dengan mamaku.

Mama merupakan seorang perempuan Tionghoa asal Bangka Belitung. Aku tidak pernah menyadari kehebatannya sampai aku berusia tujuh belas tahun.

Sebagai perempuan Tionghoa, mama mendapat stigma yang sama dari lingkungannya. Ia dituntut untuk menjadi istri yang cantik, namun tidak pesolek; istri yang rajin, namun tidak dominan. Ia ditekan oleh keluarga besar untuk berdaya guna namun tetap bersembunyi di bawah bayang-bayang. Mungkin saja, sewaktu muda dulu mama akan berteriak seperti aku. Ia bisa mengalahkan banyak laki-laki dengan adu hipotesis, juga adu prestasi. Kemampuan mama ada di atas banyak ibu-ibu lain. Namun, inilah kehebatan mama. Dengan tekun ia memupuk dan memadatkan semua yang ia punya. Sebagai perempuan ia terus saja melakukan yang ia bisa untuk kebaikan bersama.

Saat ini, tidak akan ada orang yang berani membantah kalau mama adalah perempuan yang hebat.

Setiap hari, mama melakukan pekerjaan rumah tangga yang harus ia lakukan sebaik mungkin. Ia selalu bangun jam tiga pagi, bergumul dengan pakaian, cucian, masakan, bahkan printilan lain yang membuatnya sibuk setengah mati. Di sela-sela pekerjaannya, mama juga menjual makanan-makanan yang ia masak kepada kenalan-kenalan. Masakan mama terkenal enak. Sering kali ada pesanan tambahan yang mama terima. Uang lebihnya itu tidak pernah mama nikmati sendiri: mama selalu berbagi kepada anak-anak, keluarga, bahkan teman-teman. Mama selalu berbagi apa yang bisa dibagi. Dengan rendah hati, mama akan bilang kalau ia baru menerima berkat.

Mama yang pertama kali mengajariku untuk rajin mencuci muka setelah pulang bermain. Bersih itu wajib, katanya waktu itu. Sampai sekarang aku percaya itu adalah rahasia kecantikan paling dasar yang mama ajarkan. Bersih itu wajib. Selain rumah yang bersih, mama juga merawat dirinya menjadi pribadi berhati dan bertubuh bersih.

Papa pasti sangat bangga kepada mama. Walau begitu, banyak orang yang masih memuji papa karena mempunyai istri sebaik mama. Kenapa mereka tidak langsung memuji mama? Aku tidak pernah lihat mama protes. Papa juga selalu tersenyum menjawabnya. Melihat mereka berdua, aku sadar kalau stigma tidak perlu dibantah. Kita hanya perlu membuktikan sebaliknya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top