Manusia Tidak Asing Lagi dengan Perbedaan

“Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan ajaib bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.”

Jostein Gaarder, dalam buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken (1993).

Aku membaca buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dua tahun lalu. Tapi, sampai saat ini, kesadaran akan dunia tulisan masih menyihirku begitu hebat. Bagaimana tidak? Dua puluh enam abjad dalam bahasa Indonesia bisa menciptakan berbagai dunia yang begitu kompleks dan luas–fantasi maupun riil.

Aku pernah menjelajahi dunia sihir dan berharap dilahirkan sebagai penyihir. Aku pernah berfantasi tinggal dalam sebuah distrik miskin dengan pemerintah yang korup, atau menjadi penjelajah suku Indian yang bersahabat baik dengan pria berkulit putih. Aku juga bermimpi kelak akan menyadari kehadiran dewa-dewi Yunani yang begitu banyak nama dan perannya. Semua dunia itu diciptakan–tentu saja—dalam tulisan-tulisan!

Dua puluh enam abjad yang luar biasa itu membentuk kalimat yang begitu banyaknya, yang kemudian membentuk paragraf yang begitu banyaknya, dan yang kemudian membentuk buku yang begitu banyaknya!

Dua puluh enam abjad itu juga yang mengajariku untuk menjadi berbeda. Dunia tulisan kita ini tidak akan seramai sekarang kalau penulis-penulis tidak belajar untuk menjadi berbeda. Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer berbeda dengan Amba-nya Laksmi Pamuntjak; begitu juga Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata berbeda dengan 86-nya Okky Madasari. Perbedaan-perbedaan itu membawa sisi kemanusiaan penulis yang berbeda, dan kita semua menikmati perbedaan itu. Bahkan tulisan-tulisan di kanal Menjadi Manusia selalu berbeda rasa dan iramanya.

Dan pada suatu pagi, aku menyadari, ternyata hal yang paling penting bukanlah menjadi berbeda. Dalam dunia yang begitu ramai dan riuh, aku juga perlu belajar untuk menerima perbedaan.

Introver dengan ekstrover. Realis dengan idealis. Sains dengan konspirasi. Musik dengan literatur. Melodi dengan ritme. Pantai dengan gunung, bubur diaduk dengan tidak diaduk, pedas dengan tidak pedas, manis dengan asin…daftarnya tidak akan pernah selesai! Yang namanya manusia, pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya perbedaan.

Menjadi berbeda berarti menjadi diri sendiri, tetapi menerima perbedaan berarti menyediakan tempat untuk orang-lain. Kita semua akrab dengan frasa menjadi berbeda, tetapi untuk menerima perbedaan–kita masih butuh latihan bertahun-tahun lagi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top