Jari Pianis

Menempatkan jari-jariku sekaligus di atas lima tuts piano tidaklah senyaman kelihatannya.

Lagu “Twinkle-twinkle Little Star” mengalun dari studio paling pojok. Temponya berantakan. Jari kelingking si gadis terus-menerus membandel, tidak mau tegak berdiri dan menekan tuts yang dipilih. Empat jarinya yang lain sudah kesemutan. Mendadak, lagu anak-anak itu terasa panjang sekali.

 

Aku bermain dengan ketegangan, dengan tangis frustasi kalau tidak kunjung bisa, dengan keluhan-keluhan, tapi tidak pernah dengan penyesalan.

Ternyata bermain dengan dua tangan lebih sulit lagi. Notasi lagu “O Holy Night” terpampang di hadapannya, dengan akor dan melodi yang harus dibunyikan bersama-sama. Gadis itu meringis. Sela-sela jarinya sudah perih karena tangannya tak terbiasa bermain selama ini. Lagu itu juga sangat panjang. Kepalanya pusing membaca taoge-taoge yang menjelma not balok itu. Dan natal sudah dekat. Setelah merenggangkan punggungnya yang pegal, gadis itu mencoba lagi.

 

Apakah bermain piano harus menderita seperti ini?

Kelingking kirinya ada di tuts G paling rendah. Telunjuknya di D, dan jempolnya di G. Satu oktaf. Studio yang sepi itu jadi saksi betapa ia betul-betul menangis melatih jarinya seperti ini. Baru kali ini ia bermain sampai ke oktaf ke empat. Jari tangan kanannya melompat-lompat, turun-naik, ke sana-kemari, dengan kelingking yang sudah mulai ahli. Ia meringis lagi. Pegal!
Bagaimana para pianis itu tahan tampil berjam-jam?!

 

Musik adalah perjalanan tentang menikmati rasa sakit dan membiarkan waktu menyembuhkan.

“River Flows in You” mengalun dari dalam studio. Gadis itu menyerupai Yiruma. Gaun putihnya berkibar seiring dengan gerakan tangannya yang lembut dan dinamis. Ia bermain dengan tangis, menggantikan tangis-tangisnya terdahulu yang sudah berbuah manis. Segala rasa sakit yang ia tekuni selama bertahun-tahun telah menghasilkan jari-jari yang cekatan. Tidak ada lagi rintihan untuk saat ini.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top