Apa Beda Cantik dengan Manis?

Apa beda cantik dengan manis? Karena sebetulnya aku mau jadi cantik, tapi mereka selalu bilang aku manis.

Waktu kecil dulu, beberapa orang memujiku sebagai anak yang manis. Mereka bertanya di manakah aku mendapat pakaian yang sangat cocok ini, siapa yang mengepang rambutku, dan dari mana aku belajar menyapu. Lalu mereka bilang kakakku cantik. Dengan senang hati ia memutar roknya di hadapan mereka sambil tertawa-tawa. Aku ikut tertawa.

Ketika masuk sekolah, akhirnya aku mengenakan pakaian yang sama seperti kakak. Seragam dengan rok yang bisa mekar kalau aku berputar. Kami berdua suka bermain seperti ini, memutar-mutar tubuh agar rok kami mengembang. Banyak yang bilang kakakku cantik. Kepadaku, mereka bilang aku manis apalagi kalau berlaku lebih anggun sedikit.

Di sekolah menengah, aku mulai menuruti kata mereka dan berhenti mengenakan rok mekar. Aku ganti pakaian sehari-hariku dengan rok sepan. Selain lebih sopan, ternyata aku terlihat lebih anggun di depan cermin. Maka dengan bangga hati, aku bersanding dengan kakakku, bepergian berdua, terkadang juga makan dan menonton berdua. Banyak kenalan yang bilang kakak cantik dan aku manis. Tapi katanya, kakak lebih cocok pakai rok sepan seperti yang aku pakai.

Lalu dengan frustasi aku tahu mereka memintaku untuk sembunyi lagi, di balik pakaian-pakaian, di balik bayangan. Memang aku hitam, juga manis, tapi kenapa aku tidak boleh jadi cantik seperti yang mereka bilang kepada kakak yang berkulit lebih putih?

Apa beda cantik dengan manis? Seharusnya tidak ada. Kedua kata itu sama indah dan sama asri, merepresentasikan diri perempuan yang berharga dan wangi. Tidak ada yang salah dengan menjadi cantik atau manis, menjadi hitam atau putih, menjadi diri sendiri. Yang salah adalah ketika kita memilih untuk terus bersembunyi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top