Sabrina dan Perjalanannya dalam Mencintai Diri Sendiri

Sering kali, anggapan buruk tentang menjadi berbeda sudah tertanam sejak kecil. Nyatanya, hal ini bisa mengakibatkan seseorang mengubah cara pandang serta penilaiannya terhadap diri sendiri. Mendengar cerita Sabrina dalam video Berbagi Perspektif kali ini dapat menjadi sebuah contoh tentang bertahan dan tetap mencintai diri sendiri walau dianggap berbeda.

Sejak kecil, Sabrina telah mengalami perundungan fisik yang dianggap berbeda oleh kebanyakan orang, seperti mata yang sipit, tubuh yang kurus, maupun badan yang terlampau tinggi. Baginya, penilaian dari orang lain tentang tubuhnya yang berbeda bisa mengubah cara pandang serta penilaian Sabrina terhadap dirinya sendiri.

Perundungan bukanlah satu-satunya trauma bagi Sabrina. Di luar itu, kondisi keluarga yang tidak lagi utuh akibat perceraian orang tua juga membawa Sabrina pada kegagalan dalam menjalani sebuah hubungan dan berkali-kali terjebak dalam toxic relationship. Dia sering mendapat perlakuan kasar baik verbal maupun fisik. Namun, dia tidak membiarkan semua perlakuan kasar, ancaman, kekerasan, dan perundungan yang dia alami itu mendefinisikan jati dirinya.

Sabrina bilang bahwa dia selalu merasa sedih dan sering mengalami titik terendah dalam hidup, Dia tidak membagikan perasaannya dengan siapa pun dan lebih memilih untuk memendamnya. Sabrina juga bercerita bahwa dia pernah mengalami manic attack. Kala itu, dia bisa tiba-tiba menangis dan merasa tidak layak untuk hidup di dunia. Sabrina pun hampir tidak tidur selama berhari-hari namun tetap bisa beraktivitas seperti biasa tanpa merasa mengantuk. 

Dari kondisi yang dialami, akhirnya Sabrina memutuskan untuk meminta bantuan ahli dan dokter. Upaya ini juga dia lakukan untuk menghindari self diagnose. Berdasarkan diagnosis dokter, Sabrina ternyata mengalami Bipolar Disorder dengan tipe emosional yang fluktuatif.

Pada 2017, Sabrina sempat menjalin hubungan yang serius namun akhirnya tidak dapat dipertahankan. Hal tersebut lantas membuat Sabrina terpuruk dan mengubah dia menjadi pribadi yang urakan. Sabrina menjalankan hidup tanpa aturan, dengan sesuka hatinya. Suatu hari, dia menyadari bahwa sejatinya dia tidak suka melakukan hal tersebut dan mencoba bangkit dengan mulai mencintai dirinya sendiri.

“Your story is not defining who you are, it’s just a part of your past ” 

Sabrina belajar, bahwa menyayangi diri bukan cuma perkara kata-kata positif, melainkan juga perihal asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya dan kesadaran untuk menjaga kesehatan melalui olahraga. Baginya, walaupun ungkapan negatif masih sering dilontarkan oleh orang lain kepadanya, jangan sampai kata-kata yang menyakitkan itu keluar dari mulutnya sendiri. Menurut Sabrina, self affirmation adalah hal penting dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Semuanya bisa bermula dengan mengucapkan terima kasih kepada tubuh sendiri dan mensyukuri sekitar yang mampu membuat kita menjadi lebih baik. Itulah yang Sabrina lakukan.

Sabrina mengingatkan: di dunia ini, kita cuma lahir sebagai satu jiwa. Jangan sampai kita merusak diri sendiri. Kita tidak akan pernah bisa menukar jiwa ini dengan hal lain. Meskipun banyak hal-hal yang bisa memicu kita untuk membenci diri sendiri, kita harus terus belajar untuk memaafkan dan mencintai diri sendiri. Beranilah untuk merasa, beranilah untuk menghadapi hingga akhirnya beranilah untuk memaafkan.

Jika kamu merasa dalam kesulitan, jangan takut untuk mengungkapkan dan jangan ragu untuk mencari pertolongan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top