Rhaka Ghanisatria dan Cerita Bangkit dari Keterpurukan

Rhaka Ghanisatria, salah satu Co-founder yang juga merupakan the brain dari Menjadi Manusia, membagikan kisah hidupnya lewat Berbagi Perspektif kali ini.

 

Pada 2016, Rhaka terdiagnosis gangguan mental ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), yaitu gangguan pada perkembangan dan kinerja otak yang membuatnya kesulitan untuk memusatkan perhatian serta cenderung berperilaku hiperaktif dan impulsif. Rhaka mengakui ADHD yang ia idap membuatnya susah fokus dan sering bertanya banyak hal tentang kehidupan. Sejak itu, Rhaka rutin menjalani pengobatan ke psikolog dan psikiater. Alih-alih membaik, Rhaka merasa obat yang diberikan dokter hanya bisa meredam pikirannya untuk sementara saja. Setelah efek obat tersebut berakhir, Rhaka merasa kondisinya semakin parah, ia bahkan tambah meletup-letup.

Seperti mencari jalan keluar yang lain, Rhaka lantas berkenalan dengan tembakau gorila. Ia merasa diberi asupan makanan yang bergizi. Ia pun ketagihan sampai suatu hari, Rhaka yang biasa mengonsumsi satu kantung penuh dalam sehari, jatuh pingsan. Puntungan tembakau gorila terselip di antara jarinya. Ia hampir overdosis.

“Gue dilarikan ke rumah sakit jiwa, dirawat selama dua minggu, dan itu momen yang mengubah hidup gue.”

Momen saat Rhaka dirawat di rumah sakit bahkan sampai tangan dan kakinya diikat tidak membuatnya terpuruk dan putus asa akan hidup yang ia jalani. Momen tersebut justru membuat ide-ide berkeliaran di kepala Rhaka: tentang cara kembali bangkit dari keterpurukan dan bermanfaat lebih untuk sekitar. Rhaka merasa bahwa uang yang selama ini ia hasilkan dari bisnis studio foto tidak lantas membuatnya bahagia secara penuh. Ia ingin melakukan sesuatu yang berdampak langsung kepada masyarakat dan membahagiakan hatinya. Dari situlah ide membangun Menjadi Manusia muncul.

Ketika ditanya tentang apakah membangun Menjadi Manusia adalah takdirnya, Rhaka dengan yakin menjawab Menjadi Manusia adalah takdir, hidup, dan kesempatan kedua. Banyak mimpi Rhaka yang menjadi kenyataan lewat membangun Menjadi Manusia, mulai dari menjadi pembicara di acara TEDx Talks, masuk televisi di acara Kick Andy, hingga berbincang langsung dengan Najwa Shihab. 

Masa kelam Rhaka dahulu seperti menampar dan membuatnya bersyukur hari ini. Perlahan-lahan, banyak orang yang merasa terbantu dengan hal-hal kecil yang ia lakukan bersama Menjadi Manusia. Bagi Rhaka, Menjadi Manusia lebih dari sekadar sebuah media komunikasi, tetapi penyelamat hidup dan sebuah pembuktian bagi orang-orang yang pernah merendahkan dirinya.

“Menjadi Manusia adalah kompilasi kegagalan, terus gue bikin satu album gitu, nih album gagal gue. Tapi gue bikin album ini semewah mungkin sehingga menjadikan kegagalan-kegagalan gue di masa lalu menjadi megah dan keren.” 

Rhaka selalu ingat pesan mendiang Eyangnya untuk selalu bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri. Itulah yang membuat Rhaka tidak pernah merasa menyesal terhadap apa yang telah ia alami. Menurutnya, kegagalan diperlukan seseorang untuk belajar, ia juga percaya bahwa sudah ada pintu-pintu rezeki bagi setiap orang, segalanya telah diatur oleh sang Maha. Sebagai manusia, yang bisa kita lakukan hanya berusaha untuk membuka pintu dan kesempatan tersebut.

Rhaka tidak akan pernah bosan untuk menggaungkan bahwa menjadi manusia adalah proses yang tidak akan pernah berhenti. Selalu ada koma baru untuk mengawali proses bangkit dari kegagalan hingga menyentuh titik akhir.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top