Belajar Menerima Diri Sendiri dari Amyrah Aaliyyah, Seorang Penyintas OCD

Dalam rangka merayakan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2020 lalu, Menjadi Manusia berkolaborasi bersama Maika Collective untuk mengajak orang awam dalam mengenali Obsessive Compulsive Disorder (OCD) secara mendalam lewat pengalaman audiovisual. Selain itu, mereka juga diundang ke dalam sebuah sesi intim bersama penyintas OCD. Video ini sudah tersedia dan bisa disaksikan penuh di microsite akarjiwa.com

Geysmi Bafadal dan Rania Makarim, misalnya. Sebagai awam, keduanya berkesempatan untuk mengobrol bersama Amyrah Aaliyyah, seorang penyintas OCD. Amyrah lantas menceritkan bahwa OCD membuatnya stres, melakukan suatu hal secara berulang-ulang. Ketika selesai mencuci tangan, Amyrah enggan untuk mematikan keran dengan tangan lantaran khawatir untuk merasa kotor lagi. Bahkan, aktivitas salat yang biasanya bisa memakan waktu selama lima belas menit, terkadang harus dilakukan selama sejam oleh Amyrah.

Di dalam benak Amyrah, ada ancaman tertentu apabila dia tidak memenuhi permintaan dari suara-suara tersebut.

“Kalo lo nggak ngulang sholat lo sekarang, lo bakal mati, celaka, koma, kayak gitu-gitu.”

Amyrah sudah merasakan gejala OCD sejak dia duduk di bangku SMA dan seiring berjalannya waktu, dia merasakan tanda-tanda yang semakin parah. Amyrah secara resmi didiagnosis OCD oleh dokter pada Juli 2020. Namun, diagnosis tersebut tidak membuat Amyrah kaget. Amyrah pernah merasakan panic attack yang luar biasa lantaran capek untuk menuruti bisikan-bisikan yang ada di kepala. Pada saat itu, saudara terdekat Amyrah yang juga merupakan seorang dokter, menduga bahwa Amyrah mengidap OCD.

Sesungguhnya, Amyrah lelah untuk menuruti bisikan-bisikan yang ada di kepala. Namun, dia mau tidak mau mesti yakin dengan ancaman tersebut. Pernah suatu ketika, suara di kepala mengancam Amyrah untuk mengulang melakukan sesuatu, jika tidak, orang terdekatnya akan mati. Amyrah tidak memenuhi permintaan itu dan dia betul-betul kehilangan seseorang tersebut.

Saat ini, Amyrah mesti rutin meminum obat. Tidak boleh putus. Dengan bantuan obat dan dukungan keluarga sebagai orang terdekat, Amyrah kini bisa lebih mengendalikan diri; benak di kepala yang memintanya untuk mengulang suatu hal juga bisa sedikit diredam. Bagi Amyrah, semuanya berawal dari diri sendiri yang mau menerima segala kondisi. Jika bukan kita yang mau menerima diri sendiri, lantas siapa lagi?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top