Bukan salah wartawan, pembuat konten, atau netizen yang me-repost sehingga kabar-kabar buruk itu muncul di linimasa saya. Memang sudah nista dari sananya. Sekalipun memicu naik pitam dan naik darah di bulan puasa, deretan judul kasus yang terjadi tetap penting digaungkan.
Kenapa ya polisi sering membunuh? Arianto Tawakal, 14 tahun, di Maluku, dipukul dengan helm baja. Gamma Rizkynata, 16 tahun, di Semarang, ditembak. Afif Maulana, 13 tahun, di Padang, dipukuli dan disiksa. Sudah begitu, masih ada narasi yang dipelintir: mereka terlibat tawuran dan balap liar. Mundur sedikit ke belakang, tragedi Kanjuruhan meloloskan klarifikasi terburuk setelah tembakan gas air mata: semuanya tuh salah angin.
Geser gelanggang, kita bersisian sama teman-teman perempuan yang mulai speak up tentang pelecehan dan kekerasan seksual. Pelakunya pada jadi sosok di industri. Ada yang aktif di kolam musik, main di skena fotografi, berkecimpung di dunia sastra, dan sebagainya. Sirkel mereka tebal, penggemarnya bebal–bukan main.
Buat menghadapi itu semua, muncul pernyataan “mereka akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti”. Atau, ketika kesabaran kita ditempa terus-menerus dengan kabar Sahroni, Board of Peace, Gubernur Kaltim,–apa lagi ya?–banyak yang bilang: “kita masuk surga jalur WNI”. Dua kalimat itu, mungkin bukti betapa banyak dari kita yang merasa tidak bisa berbuat banyak untuk instan mengubah keadaan. Di antara berita-berita buruk yang berjatuhan, kita mencari cara untuk merespons.
“Nanti dimintai pertanggungjawaban”, jika keluar dari mulut figur publik yang dilimpahi privilese, tentu saja ia justru jadi nasihat yang permisif dan performatif. Tapi, ketika diucapkan oleh warga yang benar-benar dizalimi dan digencet mode survival, ia adalah sekecil-kecilnya upaya mengingat serta melawan lewat harapan.
Lalu bayangkan, kalau ditanya, “Kenapa kamu merasa pantas masuk surga?”, jawabannya, ya, “Karena saya sudah melewati titik terendah dalam hidup, yaitu menjadi warga negara Indonesia.” Di balik “kita masuk surga jalur WNI”, ada isyarat: we deserve more than this.
Kekecewaan kita menyasar kepada oknum yang beranak pinak, enabler pemerkosaan, dewan perdamaian yang tidak melibatkan pihak tertindas, orang yang dulu goblok-goblokin rakyat malah kembali menjabat, abk yang di ambang hukuman mati, dan sebagainya yang terlalu panjang untuk diceritakan.
“Nanti dimintai pertanggungjawaban” dan “masuk surga jalur WNI” adalah bagian dari cara meresponsnya. Di satu sisi, ia bisa melemahkan amarah kita untuk menuntut balik di sini-kini, tapi bisa juga jadi simpul yang paling waras diikat kencang-kencang ketika orang-orang mulai melupakan dan terdistraksi.
Di bulan puasa, katanya, setan-setan dikerangkeng. Tapi sepertinya mereka malah banyak berulah kali ini. Jangan-jangan di balik kerangkeng masih bisa berbuat jahat? Atau mungkin mereka justru lolos dari jeratan kerangkeng dan tunggang-langgang bebas menciduk orang-orang baik?
Hidup sialan. Hampir setiap hari berita buruk. Kita harus tahan banting untuk menyaksikan pertanggungjawaban mereka. Kita harus tahan banting berkali-kali lagi, lalu ketemu di surga ya.