Permukiman Tanya di Kepala

Aku menanggalkan wajah bulan yang sukses kukenakan seharian, orang-orang lebih lihai jika bibirku membentuk setengah lingkaran sementara mataku menawarkan jeda.

Hutan kata-kata, sentilan pertanyaan yang datang menghujani dada, tidak akan berhenti meneror sesuatu yang sekarat di ujung lidah.

Di luar, langit tampak baik-baik saja, teriknya mengisi nyawa bayang langkah kaki dari para pejuang yang keningnya ditumbuhi serat nasib.

Sementara mereka meniti hidup lebih baik lagi, aku justru bersembunyi dari rupa dunia, meninabobokan setiap ketakutan.
Agar senyap,
Pulas,
Lamat-lamat ke liang lahat

Pantulan cermin tua di kamarku menampar sosok yang terperangkap di dalamnya,
Yang tidak lagi aku kenali,
Yang lebam diamuk ekspektasi.

Padahal, resah bukan hanya musuh orang dewasa, dan tugas kita tidak hanya memanen usia. Tetapi kalimat-kalimat yang berbaring di sosial media, yang dimuntahkan mentah-mentah, tidak lain pertanyaan tergesa, “Di umur segini, kau sudah punya apa?”

Adakah pencapaian merupakan sesuatu yang pantas diperlombakan? Pemuas daun telinga manusia? Jika begitu, bukankah di semesta yang sementara, jerih payah adalah sesuatu yang sia-sia? Apabila kau tersengal karena merasa jauh tertinggal,

maka pelan-pelan aku merapal mantra, “Semoga semesta(ku) baik-baik saja,”

5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top