Musim yang Lahir dalam Kamarku

Aku, malam dan kata-kata–kami tiga beradik kembar yang tidak pernah sampai pada suara. 

Di antara lantai keramik yang buram karena air mata, aku meninabobokkan setiap ketakutan, sembari berbisik, “Malam masih panjang, biarkan pagi bertunas lusa atau kapan pun ketika sepasang kesepian di dadamu tidak lagi merengek tanpa jeda.”

Kepalaku rimba kekhawatiran, aku tidak tahu kapan tepatnya mereka mendirikan perkampungan dan melahap cahaya jadi potongan asumsi yang kulahirkan sendiri. Aku selalu seperti ini–berkencan dengan kalender di dinding kamarku, yang tanggal satu-satu. Tidak ada tanggal merah bagi mumur luka yang terus meregang nyawa.

Terkadang ingatan masa lalu menggerayangi tubuhku, tetapi aku tidak menemukan pilihan selain tenggelam dan menyalahkan keadaan. Aku tahu, bertengkar dengan takdir tidak akan membuatku berhaha-hihi di atas kemenangan. Aku hanya ingin berhenti merekam kemalangan dengan menolak fakta, bahwa terhadap setiap pilihan hidup, tidak kutemukan penyebab lain selain langkahku yang penuh kecerobohan.

Aku tidak menabrak apa pun, tetapi kepalaku dipenuhi kecelakaan beruntun. 

Setiap kali pikiranku merayakan pesta dan mengundang keributan yang maha, aku selalu memutar lagu atau sibuk melakukan sesuatu agar tamu bernama air mata, batal menganak sungai di pipi. 

Seseorang pernah berkata, “Sudah berapa lama lukisan tua itu kau kenakan ke mana-mana? Nyala asa di dadamu, apa benar sudah tiada?”

Kata-kata itu membentur telingaku dan menetap di sana untuk waktu yang lama. 

Setelah genap 20 tahun hidup dengan kesempatan yang tuhan berikan, aku sadar, menjadi berbeda bukan berarti aku harus dikucilkan dari rupa dunia. Menjadi manusia berarti siap menerima, bahwa ada musim ketika aku tidak baik-baik saja. Ada musim ketika bahuku melorot, karena sisa semangatku yang berkarat. 

Sesekali tergelincir di jalan yang kulalui, bukan suatu dosa yang menjadikan aku manusia gagal. Lorong gelap yang menakutkan itu harus kulalui meski entah apa yang menantiku di dalamnya. 

Karena hidup perihal menemukan jawaban, maka aku memilih menjadi soal yang penuh teka-teki, yang kedalaman maknanya membuat aku terus mencari.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top