Pancarona

Pejamkan mata, rebahkan tubuh di atas selembar kain sutra
Apa yang siapa dan tak ada gunanya di dunia ini?
Kerikil yang tajam menusuk tiap telapak kaki kecil tak berdosa
Terbatuklah aku sebab kelolodan tanggung jawab
Hampa seperti rasa yang berlabuh entah untuk siapa pemiliknya

Kereta kuda orang itu melaju sangat cepat
Uluran tangan mengajak terbang jiwa yang kehilangan nyawa
“Di manakah terang yang kau sembunyikan?”
Rupanya cahaya tidak hanya turun di langit Eropa
Lipatan doa di saku celana jadi siluman dari segala penunjuk arah

Bersatulah bintang dan gerhana, bulan dan purnama, aku dan takdirnya
Berjalan dengan gagah di antara banyak persimpangan
Jadi ini, jadi itu, jadi apa pun, jadi Aku
Kita bisa tenggelam dan bisa padam,
Tapi indah rasanya monolog di tengah gelap gulita malam

Perkenalkan aku; tak dikenali pun bukan masalah
Berbuat baik pada yang tak mengenal apa itu baik, juga bukan masalah
Langkah kaki maju ke depan, mengambil barang dengan tangan kanan
Anak panah telah mendarat di titik merah dengan sekali bisikan
Ibu masuk menjabat tanganku, memeluk, dan menyimpan fotoku

3.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top