Mencari ke Dalam

Dulu ketika kita masih kecil, rasanya semua hal dibuat sederhana. Satu tambah satu sama dengan dua juga langsung kita terima tanpa berpikir variabel lainnya. Mana pernah punya waktu merenungkan segalanya perihal konsep dunia dan isinya, apa-apa yang menimbulkan tanya pasti kita dekati untuk langsung kita coba. Lelah yang kita kenal adalah lelah karena balapan naik sepeda, jatuh pun tidak apa-apa, paling juga membuat lutut terluka. Dulu kita mana paham dengan beban pikiran? Terlalu sibuk kita berlarian di luar untuk bermain banyak peran. Terhadap semua hal, kita ingin berteman.

Di sekolah, kita mulai diajarkan banyak hal. Kita mulai menghitung, mulai menuliskan kata yang didikte oleh bapak-ibu guru. Dunia berubah menjadi sedikit rumit, seakan apa-apa yang berharga adalah hal-hal yang bisa diukur dengan angka. Peringkat kelas, jumlah teman, hingga banyaknya uang jajan di saku celana menjadi parameter dari bahagia. Kita berlomba-lomba menjadi juara, turuti ambisi untuk lebih bersinar daripada yang lainnya. Bukankah mereka hanya memberi tepuk tangan untuk garis akhirnya?

Di usia kepala dua, hidup mulai memberi kita banyak sekali ujian. Namun sering kali kita tidak tahu apa jawabannya. Bagaimana kita menyikapi kekecewaan, bagaimana kita memaafkan ketidaksempurnaan, bagaimana kita memberi ruang untuk kegagalan, kita tidak pernah mendapat teori ini di sekolah dan kuliah.

Lalu, kita harus tanya ke mana?

Saat alur hidup tidak sepadan dengan rencana, kita merasa di situ ada yang salah. Kita merasa hilang arah. Kita takut berbicara, takut apabila berat kita membebankan mereka yang dekat dengan kita, takut apabila gelap kita turut meredupkan terang mereka. Namun, manusia bukanlah robot yang tak punya rasa, kita tidak bisa selamanya berpura-pura.

Barangkali menelan segalanya bulat-bulat menjadi satu-satunya opsi. Kita coba izinkan diri kita merasakan kesedihan. Kita tepuk punggung kita. Kita elus kepala kita bukan untuk diri yang juara, melainkan untuk prosesnya. Proses mungkin mengikis kehidupan, namun proses mendewasakan. Proses mungkin memancing kita untuk mengeluh, namun proses membuat kita bertumbuh. Proses yang kita lewati menjadi sebuah buku panduan, manual untuk kehidupan kita selanjutnya.

Setelah ini, saat kita kembali berada dalam suatu pencarian, mungkin kita harus coba tengok ke dalam? Barangkali jawaban yang kita cari ternyata ada di dalam diri sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top