Emosi dan Mimpi

Saya harap kamu selalu bahagia.

Mantra itu kerap saya dengar dalam banyak perayaan, dalam tiap doa yang dirapalkan. Ada yang digaungkan beriringan dengan lilin angka yang ditiup padam, ada pula yang melebur penuh penghayatan pada tangis pukul tiga malam. Namun semuanya mengharapkan muara yang serupa:

Kebahagiaan.

Sejak saya kecil, yang saya tahu kebahagiaan sudah menjadi bentuk emosi yang dianak-emaskan. Sentosa, euforia, atau apa pun itu bentuknya, menjadi standar yang menormalisasi kehidupan. Segala perasaan di luar itu dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan, perlu dihindari, bahkan harus segera dicari obatnya. Berbeda dengan rasa gembira yang biasa disampaikan secara meluap-luap, seseorang yang bersedih cenderung lebih berhati-hati. Mereka hanya akan berbagi dengan beberapa yang mereka percayai. Tidak jarang pula mereka simpan nestapa itu untuk diri sendiri.

“Sebarkan aura positif” sudah menjadi jargon yang dipekikkan di mana-mana. Yang sedih akan mencari cara untuk bahagia, yang bahagia akan berusaha menaiki tangga untuk mencapai level kebahagiaan selanjutnya. Bahagia tidak lagi menjadi sebuah perasaan yang sederhana.

Hal ini membuat saya kembali bertanya: apakah kebahagiaan itu sebuah hak yang sudah didapatkan, atau justru menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi?

Jika tidak bahagia, maka nelangsa.

Seolah hanya itu pilihan yang disodorkan oleh semesta. Padahal emosi bukanlah mata pisau yang hanya dua. Manusia bisa saja merangkul banyak rasa dalam satu hela.

Kalau saja hati adalah rumah, saya ingin pintunya terbuka untuk setiap tamunya. Saya ingin dia belajar untuk tidak memilah, menjadi terbiasa untuk lebih menerima. Si “suka” tentu akan saya sambut dengan sebaik-baiknya, namun duka pun tetap boleh singgah. Cukup sediakan ruang yang lapang, biarkan mereka semua bermukim seperlunya.

Tenang saja, setiap tamu tidak akan selamanya di sana. Jika sudah selesai dengan urusannya, mereka akan pergi, digantikan oleh tamu-tamu lainnya; silih berganti dan saling melengkapi. Bersama-sama, mereka mengajarkan manusia untuk menerima kekurangan dengan penuh rasa syukur.

Kebahagiaan itu ada—tidak ada yang salah dengan itu. Ada yang sekadar menganggapnya sebagai emosi, ada yang terus mengejarnya sebagai sebuah mimpi.

Namun, yang salah adalah meyakini bahwa tiap rasa harus selalu bahagia.

Yang salah adalah menyimpulkan bahwa tiap raga punya bahagia yang sama.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
mardi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
mardi
Guest
mardi

terima kasih, saya damai membacanya

Top