Doa Orang Serakah

Ada satu pinta sederhana yang selalu berusaha saya selipkan di tengah doa-doa yang serakah, di antara segala hal besar yang tak pernah alpa saya amini untuk diri sendiri. Doa agar Tuhan tidak berhenti memberkahi saya dengan cinta—yang dapat terus saya salurkan pada jiwa lainnya, sekalipun saat saya sedang tidak punya apa-apa.

Sedikit pengalaman hidup yang telah saya lahap di usia kepala dua nyatanya memberi banyak dampak pada anak kecil yang hidup dalam diri saya; tumbuh menjadi seorang perasa adalah salah satunya. Kerap saya temukan diri saya berusaha memahami banyak hal tak hanya sebatas pada kulitnya, karena saya percaya bahwa selalu ada alasan-alasan kuat di balik tiap perangai manusia.

Dulu, saya menganggap bahwa kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang layak dipelihara. Toxic positivity, serta berbagai narasi lainnya ternyata sukses melahirkan beberapa miskonsepsi bahwa setiap ketulusan yang hadir adalah sebuah kepalsuan. Hidup dalam lingkungan yang gemar menghakimi membuat saya selalu berpikir; bagaimana jika energi dan afeksi yang saya luapkan ternyata bermuara pada orang yang salah? Bagaimana jika mereka menganggap saya berlebihan, atau bahkan, mencari perhatian?

Hebat.

Suara-suara kepala ini berhasil membesarkan keraguan saya untuk membuka kartu, untuk menunjukkan emosi saya apa-adanya. “Jangan terlalu meromantisisasi,” katanya. Padahal, beberapa orang bukan senang meromantisisasi, mereka hanya berusaha untuk selalu mengapresiasi—keduanya jelas berbeda. Romantisisasi lahir dari segala asumsi yang menyenangkan, sedangkan apresiasi muncul dari pemahaman menyeluruh atas suatu kebaikan.

Dewasa ini, semakin banyak media yang membebaskan kita untuk berekspresi dan beropini. Pada ruang tersebut, acap kali saya temukan deretan pertanyaan yang keluar tidak pada tempatnya. Ribuan ucapan sensitif dan destruktif—yang bertopengkan asas kebebasan berpendapat—terlontar dengan mudahnya tanpa terlebih dahulu melihat kondisi dan situasi, tanpa pertimbangan bahwa mungkin ada hati yang rentan tersakiti. Figur-figur cerdas dan hebat bertebaran di mana-mana, hadir di berbagai ruang diskusi. Namun sayangnya, menemukan orang yang memiliki inteligensi emosional tinggi menjadi sesuatu yang sangat langka. Banyak orang yang kaya materi, namun miskin empati. Banyak yang merasa bisa, sedikit sekali yang bisa merasa. Memperhatikan berbagai perilaku manusia memberikan saya sebuah realisasi bahwa ternyata apa yang selama ini saya yakini sebagai kekurangan, bisa jadi suatu kelebihan yang saya punya; bahwa ternyata menjadi peka sama sekali bukanlah sebuah dosa.

Memiliki hati yang penuh dengan cinta dan kepedulian sedemikian kuat dapat menjadi sebuah berkah, pula menjadi sebuah kutukan—tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Tentu akan terasa sangat melelahkan. Namun jika kembali diberikan pilihan, saya akan tetap memilih untuk bisa menjadi pribadi yang perasa, agar saya mudah terhubung secara emosional dengan manusia lainnya. Terlepas dari itu, menurut saya tidak semua orang memiliki intensi untuk melukai hati orang lain. Barangkali mereka tidak peka hanya karena mereka, atau lingkaran terdekatnya, belum pernah mengalami titik yang sama. Karena pada praktiknya, butuh banyak sekali kacamata yang harus digunakan sampai akhirnya bisa memahami sepenuh hati makna sesungguhnya dari empati.

Ada satu pinta sederhana yang selalu berusaha saya selipkan di antara daftar harapan, pada deretan kebahagiaan yang tak luput saya dambakan.

Doa agar saya tak berhenti diberkahi dengan cinta,

Doa agar hati saya selalu tertanam jiwa empati.

Dan saya rasa, berkali-kali bertemu titik terendah adalah cara Tuhan mengabulkannya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top