Menjadi berbeda tak pernah menyenangkan, kamu harus meyakinkan dirimu lebih pada apa yang kauyakini. Bekerja keras dua kali, untuk menerima dan berdamai dengan diri sendiri. Di saat yang lain memulai dari nol, kamu harus memulai dari minus. Kamu akan menemukan mereka yang bersuara bersama kemudian satu persatu perlahan tak berdiri bersama, lagi-lagi hanya tinggal kau. Tak ada lagi kehangatan, dan kamu harus membangun ulang, lagi dan lagi. Badanmu mungkin sudah terlatih, sudah sekuat baja. Namun yang ada di dalam dirimu kosong, benang-benang kusut dalam kepala menunggu untuk diluruskan dan dicairkan dengan segelas kopi panas serta percakapan-percakapan menuju larut malam. Percakapan-percakapan yang menjaga akal waras, jauh dari tumpukan kerjaan, jauh dari citra diri yang dibangun, jauh dari rencana-rencana. Namun ketika riuh percakapan tersebut sudah tak ada, ke mana lagi akan mencari? Kamu sendirian.

Kamu memang terbiasa sendirian sejak memasuki belasan akhir. Namun semakin berkepala dua, memang benar bukan masalah kamu mau ke mana, namun siapa yang kaubisa ajak berbagi bahagia dalam perjalanan. Kamu, kesepian dalam keberanianmu.

Kita mendewasa, katanya. Tak lagi memikirkan hal-hal remeh lagi seperti perasaan kecewa, perasaan lelah, dan hal-hal yang membuat kita memiliki sebutan lemah. Raga dan jiwa yang dulunya bahagia melantangkan idealisme, berubah menjadi mesin-mesin yang bergerak otomatis—setiap harinya. Tak ada waktu, kita terlalu sibuk untuk membangun topeng esok hari. Kamu rindu menjadi bebas dan bahagia, seperti foto lama pada masa kanak-kanak—tak perlu susah payah tersenyum lebar dengan dibuat-buat.

Sedikit melelahkan.

Masa kanak-kanak dan kebebasan telah usai, namun apakah telah tuntas? Kita lari terburu-buru meraih usia dewasa—bukan bijaksana itu sendiri. Hal yang belum dituntaskan, akan menjadi kerikil di masa depan. Jadi, mengapa harus terburu-buru? Apa yang kaukejar? Jangan-jangan, sebentar lagi habis karena ambis. Memang, kamu tak bisa mengatakan hal ini terhadap banyak orang sekaligus. Kaummu itu para perasa, tentu saja dapat dihitung dengan jari. Ada keinginan untuk menjadi normal saja, tak perlu merasakan apa-apa, tak perlu banyak memikirkan banyak hal yang sepele. Tak perlu menjeda waktu terlalu lama untuk bangkit dan kembali mengejar mimpi-mimpi yang lain.

Ada banyak hal yang kamu relakan dalam perjalanan ini, ternyata memang tak semuanya dapat kita genggam sekalipun kita pikir hal tersebut baik untuk kita. Kamu jatuh, berdarah, menangis sekencang-kencangnya, kemudian bangkit lagi. Kamu kagum setelah sekian luka yang dilewati, energimu masih tetap saja ada untuk pulih berkali-kali. Kamu sadar, dendam terbaik justru bukan meraih banyak penghargaan dan pengakuan—namun kamu hanya perlu sedikit lebih ramah saja. Penerimaan, bukan kekalahan—justru kau menang melawan egomu sendiri.

Matamu yang sembab dan kantung yang menghitam, hati yang patah, pundakmu yang pegal, dan tangisanmu yang tak dapat kaubendung. Rayakan sedikit dengan selimut yang hangat, dan lagu-lagu indie yang mendayu-ndayu. Sabtu malam, tubuhmu juga perlu beristirahat walaupun dengan bersedih. Namun besok, sudah harus siap hidup lagi ya? Ada bubur ayam hangat, pukul enam di tempat biasa kau berlangganan menanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Terima kasih, setiap kata-katamu yang menggambarkan hidupku. Dan mengubah pemikiranku juga. Terima kasih.

  2. Bagaimana caranya bisa bangkit setelah hati dipatahkan berkali2,mencoba bertahan sampai sekarang. Bukan waktu sedikit untuk menghabiskan waktu bersama melalui semua rintang 7 tahun lamanya . Hanya kandas karena tidak mau mengerti.