Mengatasi Rasa Insecure terhadap Pasangan

Akhir-akhir ini, kata insecure menjadi sangat sering dibicarakan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak muda yang sedang melewati masa labilnya ataupun kalangan artis yang berbicara soal kekurangan dirinya–padahal mungkin sudah sempurna hidupnya di mata masyarakat.

Dari berbagai segi rasa insecure itu, kawan saya ada yang bertanya perihal bagaimana mengatasi rasa insecure kepada pasangan sendiri. Saya pun bingung memikirkannya karena saya sendiri tidak–atau lebih tepatnya belum–mempunyai pasangan ketika ingin menjawab pertanyaan ini dengan sempurna.

Insecure adalah istilah untuk menggambarkan perasaan tidak aman yang membuat seseorang takut, malu, hingga tidak percaya diri.

Rasa insecure muncul ketika ada kesenjangan yang muncul antara diri sendiri dengan orang lain. Tetapi jika rasa itu muncul atas dasar perbandingan diri dengan orang yang tidak kita kenal ataupun hanya sebatas tahu, mungkin bukan masalah besar. Itu hanyalah sebuah perbedaan dari kemampuan atau takdir setiap manusia. Namun, bagaimana kalau perasaan kesenjangan tersebut muncul kepada pasangan sendiri, yang setiap hari atau setiap saat selalu bersama tetapi ternyata ada sedikit ketidakpantasan untuk terus bersama-sama?

Rasa insecure terhadap pasangan bisa disebabkan beberapa faktor, di antaranya adalah kemampuan/skill, pendapatan finansial, dan fisik. Menurut pribadi saya, ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi hal tersebut.

1. Tidak memikirkan apa yang seharusnya tidak dipikirkan

Hidup memang berat, tetapi jangan membuat diri sendiri menjadi beban terberat. Rasa tersebut mungkin muncul karena beberapa komentar atau “nasihat” dari manusia-manusia yang sesungguhnya tidak mengenal kita, seperti Memangnya kamu tidak takut kalau nanti kamu menikah dengan dia, dia bakalan poligami?; Dia kan ustad, kok dia bisa mau sih sama kamu? Sepertinya ada udang di balik batu; dan Mending cari yang biasa aja, biar dihargai.

Sudah semestinya kita tidak terikat pada omongan manusia, lebih baik terpaut dengan Tuhan agar hidup ini menjadi berkah dunia dan akhirat.

Lebih baik pikiran ini digunakan untuk memikirkan masa depan bersama, membuat perjanjian hidup, atau membuat jadwal cuci piring agar hidup rumah tangga tidak banyak keributan yang disebabkan oleh masalah kecil.

2. Mengasah kualitas pikiran

“Kebahagiaan hidup anda bergantung pada kualitas pikiran anda,” kata Marcus Aurelius. Ketika pikiran jelek selalu mendatangi hidup, hidup yang buruk pun bisa menjadi nyata. Pikiran yang baik kepada diri sendiri atau pasangan bisa menjadi kunci kebahagiaan–walaupun tidak menjamin sepenuhnya.

Namun, pemikiran terhadap kualitas fisik memang tidak akan ada habisnya. Pemikiran terhadap kuantitas materi juga tidak akan ada puasnya.

3. Komunikasi yang baik, bukan sekadar ingin dimengerti

Bicarakan segala sesuatu yang membuat rasa gelisah itu datang. Mungkin bagi sebagian orang, bercerita kepada pasangan itu sulit dilakukan karena terhalang oleh gengsi atau keinginan penuh untuk selalu dimengerti. Namun, untuk menemukan jalan terbaik, keterbukaan adalah kunci utama. Dengan demikian, kedua belah pihak dalam hubungan bisa saling menyesuaikan diri akan sebuah perbedaan.

4. Tercipta sebagai manusia

Kita terlahir menjadi seorang manusia di muka bumi ini. Maka, bersikaplah layaknya seorang manusia. Akan selalu ada perbandingan dan kekurangan yang bisa dibanggakan oleh manusia. Oleh karenanya, dari kekurangan tersebut, seseorang dapat melengkapi sesuatu dengan ikhlas. Jangan merasa paling sempurna atau merasa bahwa pasangan kita tidak memliki kemampuan dibanding yang lainnya.

Sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius, memang segala pertanyaan atau pernyataan dapat diselaraskan terlebih dahulu.

Kalau kata orang tua “Tidak ada pelajaran khusus untuk memahami pernikahan. Tidak ada sekolah khusus yang mengajarkan kita perihal tersebut.” Waktu yang akan membuat kita semua paham akan makna kebahagiaan dari sebuah pernikahan, selama kita mau untuk mempersiapkan itu semua.

Hal-hal yang saya tuliskan di atas saya dapatkan dari berbagai sumber, yaitu orang-orang yang belum ditakdirkan oleh Tuhan untuk berpasangan dan mereka yang sudah berpasangan.

4.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top