Masa Tidak Ada Masa Depan?

Bagaimana masa depanmu?

Sebuah pertanyaan yang aku buat untuk kita bersama. Dahulu ketika aku masih suka bermain ayunan di sekolah dasar, pertanyaan mengenai waktu yang akan datang hanya sebatas berkutat di acara televisi yang paling kurindukan seusai jam sekolah selesai. Masa kecil yang penuh imajinasi tentang betapa indahnya bermain bersama teman-teman sampai waktu magrib tiba. Entah itu bermain sepak bola, layangan, atau main lompat tali. Ketakutan pada saat itu ialah saat ayah atau ibu datang menjemput paksa dan seolah merenggut kebahagiaan yang aku ciptakan bersama teman-teman. Ya, hanya itu ketakutan yang aku rasakan di waktu kecil.

23 tahun aku merangkai beberapa perjalanan yang mengundang makna sekaligus duka di dalamnya. Ada banyak bom waktu yang aku bisa taklukan, dan ada banyak juga ranjau harapan yang selalu aku injak. Selama itu aku selalu berpikir: tugas kita sebagai manusia itu sebenarnya apa? Dari mulai pendekatan Tuhan yang menciptakan manusia untuk beribadah, hingga pendekatan Materialisme Dialektika Historis yang menugaskan bahwa manusia itu adalah penggerak dialektika untuk menciptakan konflik agar bisa lepas dari keterasingan dan mendapatkan kebahagiaan. Semua aku lahap dengan sangat rakus, tanpa menyadari bahwa kepala ini hampir pecah dipenuhi penggalan-penggalan teori.

Hidup ini rasanya tidak akan pernah bisa kita ringkas menggunakan buku saku dan hidup ini juga tidak akan pernah bisa dijabarkan menggunakan sistematika penulisan ilmiah sekalipun. Keseluruhan ini bukan untuk dijabarkan atau bahkan diringkas sepertinya. Manusia terdahulu selalu membawa pesan, dan aku sebagai manusia saat ini mempunyai kesempatan untuk membaca pesan tersebut serta menyimpannya dalam arsip kehidupan yang aku rasakan ini.

Perubahan drastis mengenai jati diri selalu memberikan jeda yang kemudian dapat digunakan sebagai sebuah senjata untuk menumpas semua teka-teki ini. Harusnya jadi ini, harusnya jadi itu, harusnya begini, harusnya tidak boleh begitu. Bisikan yang entah terdengar selaku manifestasi penguatan diri atau sebagai batu pemberat agar diri ini semakin tenggelam dalam kubangan lumpur penyesalan.

Menulis hal ini membuat aku lupa bahwa manusia mempunyai kadar yang unik untuk dapat bertahan hidup, untuk dapat memperbaiki bahkan menyembuhkan luka yang sebelumnya pernah aku rasakan. Pada malam hari, setiap kau tiba aku selalu menitipkan pertanyaan ini kepadamu: agar ketika pagi datang semoga ia bisa membawa jawaban beriringan dengan terbitnya mentari sebagai pencerah dan penghangat semesta di waktu yang baru, dan di kehidupanku yang pastinya akan jauh lebih bermakna.

Sebagai penutup; aku, kamu, dan kita layak untuk hidup dan menciptakan kehidupan ini yang sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya.

4.9 15 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top