Bahagiaku seperti Hujan

Di bawah langit kelabu yang menyelimuti sore kala itu, kita bersua. Nampak dirinya yang sedang duduk menilik ke luar jalan sembari meneguk minuman coklatnya. Pandangannya merayu memburu sosok yang masih abu-abu di bayangnya. Menoleh ke sana ke mari sampai ia mendapati diriku yang berjalan ke arahnya. Kusapa dirinya dan kudapati senyum tersipu di wajahnya. Baru kusadari kita mengenakan pakaian dengan warna yang serupa.

Kusimpuhkan tubuh ini duduk di hadapannya dan menaruh hidanganku dengan rampak. Aku pun mulai menyeruput minuman cokelatku sambil mendengarnya mengawali cerita. Di luar sana terlihat awan tebal yang juga mulai menjatuhkan rintik air hujannya. Aku terhanyut meresapi makna tiap kata yang terangkai membuat klise peristiwa. Dahinya mulai mengerut dan matanya menajam, menjadikan tatapanku semakin dalam. Ia pun lihai membolak-balikan alur kisahnya sampai memicu tawaku yang tergelak. Di luar sana hujan semakin deras menerpa jalan, lalu-lalang menuai lengang, kerlap cahaya lampu mulai menerangi petang. Begitu pun cerita kita yang juga semakin mengalir terucap ditemani senyum dan tawa.  Sesekali kita bergantian melahap potongan roti, kembali bertukar cerita dan mengacuhkan hiruknya sekitar seakan hanya ada kita.

Lisan tutur kita membunuh banyak waktu sampai air hujan yang deras berganti menjadi tetesan yang jatuh menggenang di kubangan. Sempat kita terdiam, terpaku mengerling ke luar dan terlena pada pikiran diri. Seketika khayalku buyar karena lembut suaranya memanggil namaku dan menyeru mengantarku pulang. Di jalan berselut ia berkemudi, aku di belakangnya menahan dingin angin berhembus sembari menatap gelapnya langit yang mulai malam. Setibanya di muka rumahku, pandangannya terjaga memastikan diriku membuka pagar. Sebelum diriku hilang teralingkan, terujar terima kasih untuk dirinya dan untuk pertemuan di sore itu.

Masih jelas di ingatanku baris peristiwa itu. Kini hanya terombang dalam lautan renung yang tak dikira menjadi akhir pertemuan kita. Selamat tinggal wahai diri yang dulu selalu ada, menenangkan gundahku, meredam amarahku, membuncah tawaku, dan menggugah senyumku. Terlalu banyak bahagia yang ia ciptakan untukku hingga kulupa membuat bahagia dengan caraku sendiri. Aku terlalu menggantung harap seakan tak mampu hidup tanpanya. Aku telah merasa cukup untuk selalu dibahagiakan. Biarkan aku pergi untuk mencari jalan bahagiaku sendiri seperti awan di langit sore kemarin yang merelakan gumpalannya hilang, jatuh menjadi rembesan hujan dan menjadi sumber kebahagiaan untuk lainnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top