Satu Frekuensi

Jogja kata orang selalu merindukan. Namun, aku tidak mau membela mereka terus memperbanyak manusia dengan kata-katanya. Jogja bagiku adalah sebuah rumah tanpa pintu, di mana setiap manusia dengan bejibun karakter bebas memasukinya sedangkan aku adalah ruang kosong yang berganti udara. Kadang dingin, kadang panas menggerahkan.

Jogja bagiku tidak menghadirkan apa-apa yang mewah. Dari perjuangan selama kuliah yang kadang melelahkan, dan orang-orang yang kutemui, begitu banyak perbedaan. Kadang juga membuat pola tanda tanya di kepala. Belum sempat terjawab ia sudah lenyap. Ah, sial.

Aku masih ingat betul: warna baju kotak-kotakmu, ukuran sepatumu, aroma badanmu, dan nada suaramu. Di depan pintu, kamu meneriakkan namaku yang berada di lantai dua. 

“Biruuuu!” 

Seraya merapikan rambutku yang masih acak-acakan, aku menjawab, “Iya, Bum.”

Bumi terus melaju di tengah kota yang cuacanya cepat berubah saat ini. Hari ini terik memanggang tanganku. Ia mengukir belang di pergelangan tangan kanan. Kulihat lagi jam yang melingkar. Di sana jarum pendeknya menunjuk pada angka 2 sedangkan yang pendek ke arah angka 3.

Akhirnya kita menyerah dari panasnya panggangan matahari. Di depan penjual es campur, Bumi menghentikan sepeda motornya. Aku menurut saja.

Tidak lama kemudian dua gelas es campur sudah di hadapan kita. “Ru, tahu tidak, Tuhan selalu adil untuk dunia ini?” Bumi memulai percakapan. 

“Iyalah, emang Tuhan punya sifat adil, kan?” Aku menegaskan. 

Bumi menjawab lagi, “Iya emang gitu. Contohnya nih Tuhan nyiptain panas, akhirnya manusia dikasih kemampuan buat nyiptain es.” Ia melanjutkan, “Berarti emang benar banget kalau ada usaha pasti ada hasil.” 

“Tapi sayang manusia enggak dikasih kantong Doraemon,” aku tertawa menganga.

Siang itu, aku dan Bumi tertawa lebih lebar dari biasanya. Kita sedikit lega karena ujian semester telah usai. Akhirnya kita berdua sepakat mengitari Jogja dari sudut yang berbeda.

Bumi adalah manusia doyan makan. Hampir tempat makan yang baru buka di Jogja dia tahu. Salah satu hobinya adalah mendatangi tempat-tempat itu. Setelah makan es campur, kita mengetok palu bahwa tekad sudah bulat pergi ke warung mie ayam di Jalan Taman Siswa, meskipun dengan rayuan maut seorang Bumi Putra yang mengalahkan kekukuhan Azalea Biru.

Banyak tempat makan berjejer di sepanjang jalannya. Walaupun begitu, sering aku dan Bumi bingung untuk menentukan pilihan mau makan apa. Hari ini keberuntungan datang kepada kita, tidak usah berpikir panjang mau makan di mana karena kita tahu tempatnya.

Bumi mengamatiku dengan saksama. Entah apa yang sedang ia pikirkan sampai bisa melakukan hal itu. Pandangannya mengandung ratusan makna yang hanya Bumi sendiri yang tahu. Aku tidak bisa membaca pikirannya dalam-dalam. 

“Kenapa, Bum? Ada yang aneh?” Tanyaku membuyarkan pandangannya.

“Enggak. Enggak ada apa-apa,” jawabnya dengan nada santai diakhiri lengkungan dari bibirnya

Sampai di kamar, pikiranku tentang pandangan Bumi tidak mau hilang. Cara matanya menatap, pancaran matanya, dan bola matanya yang hitam terekam jelas. Beribu pertanyaan menggantung di kepalaku. Mereka saling sahut, berusaha ingin dominan dan menang. Namun, sekeras apa pun aku berusaha, Bumilah pemenangnya.

Aku dan Bumi sudah kenal hampir tiga tahun, sejak awal-awal semester kuliah. Hampir tiga tahun itu juga ia sering ada bersamaku. Ia sering menemaniku makan, ke perpustakaan, mengerjakan tugas kuliah, hingga pergi ke tempat-tempat liburan. Sempat aku bertanya apakah dia tidak lelah menemaniku hampir setiap waktu. Akhirnya, aku terbiasa dengan Bumi dan tidak terbiasa tanpanya. Wangi parfumnya aku hafal betul. Ukuran sepatu dan merek sepatu apa yang ia sukai,  aku tahu. 

Aku mengecek telepon genggamku. Ada panggilan tidak terjawab dari Bumi. Aku tidak berniat mengirimi Bumi pesan singkat. Biarkan.

Langit kota Jogja jarang sekali ada bintang. Seringnya, jika malam yang ada hanya lembaran hitam tanpa kerlap-kerlip menghiasi. Malam ini, dinginnya menusuk tulang. Aku dan Bumi duduk bersampingan di Alun-Alun pusat kota. Kita berdua sesekali mendongak ke atas untuk melihat langit malam tidak berbintang.

“Tanpa bintang lagi,” celetuk Bumi.

“Bintangnya mungkin lagi mudik,” aku menjawab.

Kita sama-sama diam. Terdengar suara anak kecil kejar-kejaran jadi suara latar malam ini. Di depan kita banyak gelembung-gelembung sabun yang terbawa angin. Tanpa tujuan dan pemberhentian. Parahnya mereka akan pecah sewaktu-waktu, tanpa tahu yang lain akan pecah kapan. Sama seperti hidup, setiap orang mempunyai waktu menurut porsi masing-masing, seperti bunga yang mempunyai waktu mekar yang berbeda-beda.

“Bum, kita itu menurutmu seperti apa?” Tanyaku kepada Bumi yang kepalanya sedang mendongak.

Kepala Bumi turun perlahan. “Kalau menurutmu?” Ia membalikkan pertanyaannya kepadaku.

“Kalau aku punya rasa yang lebih, kamu gimana?” Ucapku dengan pelan.

“Ya, enggak apa-apa. Kan, kita enggak bisa mengendalikan orang mau seperti apa terhadap kita,” jawabnya mengambang.

“Ya, berarti kamu gimana?” Tanyaku kedua kali.

“Yang lebih itu seperti apa? Intinya kamu ada buatku, aku ada buatmu,” jawabnya hati-hati.

Malamnya, Jogja terasa bertambah berlipat-lipat dinginnya. Tidak ada adegan aku dipakaikan jaket seperti di film-film. Yang ada hanyalah dua anak manusia sedang canggung menyusuri malam yang sudah sepi. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan berusaha tidak meneteskan air mata. Mungkin Bumi yang sedang membawa motor pun begitu. 

Setelah kejadian malam itu, kita berjalan sendiri-sendiri. Bumi dengan waktunya, sedangkan aku dengan waktuku. Aku lebih banyak mengutuk diri di kamar. Sesekali mengobrol tentang skripsi dengan tetangga kamar, selepas itu kembali ke kamar dan hanyut dengan berbagai macam asumsi, rasa, juga memori.

Suatu malam aku pergi ke perpustakaan kota karena buku yang kupinjam sudah jatuh tempo. Keadaan di taman perpustakaan cukup sepi, hanya beberapa orang yang lewat. Aku duduk tertunduk. Aku menangis tersedu-sedu. Begitu sesak dadaku. Rupanya banyak hal-hal yang tidak kuketahui. Bumi adalah hal paling dominan. Di kepalaku semua memori bersama Bumi berputar tidak terkendali. Aku menangis dan mengusap air mata sendiri.

Setelah tujuh malam, aku dan Bumi tidak mengalami perubahan. Begitu saja tanpa kabar. Akhirnya aku mengiriminya pesan terlebih dahulu. Di  sana tertulis: Hari Senin besok aku ujian skripsi. Semoga jam 10 kamu enggak ada acara dan bisa ngeluangin waktu buat datang.

Senin pagi mentari menyinari bumi dengan suka cita. Ujian skripsi kulewati dengan lancar meskipun rasa gugup tidak bisa kuhindari. Satu hal yang paling mengganjal hari itu adalah Bumi tidak menampakkan batang hidungnya. Padahal pesan yang kukirim sudah dibaca.

Aku pulang ke indekos dengan langkah berat. Aku membayangkan Bumi yang tiba-tiba datang membawa seikat bunga. Namun, lamunanku buyar dan terasa hambar.

Menurutku ini keputusan tepat yang aku sudah lakukan. Bagaimana akhirnya nanti, semoga aku dan Bumi bisa sama-sama dewasa meskipun kadang soal penerimaan adalah hal paling sulit dilakukan oleh manusia. 

“Bumi?” Aku melongo sekaligus jantungku berdebar melihat ke bawah, di depan pintu. Aku turun menghampiri manusia yang seminggu lebih tidak kulihat. Ia tidak berubah.

“Buat kamu,” Bumi mengulurkan seikat bunga mawar merah. “Ini enggak bakal mengubah status,” ia tertawa.

“Apa sih?” Aku juga ikut tertawa.

Doaku terkabul. Aku dan Bumi saling dewasa menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan. Perasaan adalah anugerah, aku coba perlahan menerima itu, begitu pun Bumi.

Setelah kejadian itu, aku memungut kembali puisi-puisiku yang terbengkalai. Pelan-pelan aku mencoba mengubah duniaku. Pelan-pelan juga aku mengambil waktuku yang dulu hilang. Aku pikir aku terlalu mencintai orang lain sehingga aku lupa mencintai diri sendiri. Sampai-sampai, ke mana-mana harus ada yang menemani. Pernah suatu malam, aku pergi makan pecel lele sendirian, rasanya lebih nikmat. Aku lihat lalu-lalang orang di jalan. Kemudian aku tersenyum.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top