Tali Sepatu

Akhir-akhir ini tali sepatuku sering terurai.

“Bukankah lebih baik jika simpulnya kulepas semua, sehingga aku tidak perlu kesulitan mengikat simpul ini lagi?” Pikirku suatu hari karena terlalu lelah mengikat tali sepatuku.

Namun, ternyata aku masih punya keraguan untuk melepas semua simpulnya.

“Ah, mungkin besok tidak akan terurai lagi.” 

Aku kembali mengikat tali sepatuku.

Keesokannya tali sepatuku kembali terurai.

Kali ini aku terdiam lebih lama, “Apakah aku harus melepas semua simpul tali sepatuku?”

Aku memandangi tali sepatu yang semakin lusuh termakan usia.

Kenangan demi kenangan melintas di benakku dan menyadari bahwa tali sepatuku telah menemani langkahku hingga sejauh ini. Namun, rasa lelahku mengalahkan semua kenangan yang kulalui.

“Ini akan jadi yang terakhir.”

Keesokannya tali sepatuku kembali terurai. Kali ini aku terjatuh karena tidak sadar bahwa tali sepatuku terurai. Aku terluka. Aku tidak langsung mengikat tali sepatuku, melainkan duduk dan menatap sepasang tali sepatu yang kusam.

Tentu saja pikiran untuk melepas simpul tali sepatuku kembali muncul, tapi hari ini berbeda, hari ini aku sadar berkat tali sepatu kusam ini aku bisa berjalan sejauh ini. Aku hanya perlu menahan semuanya sebentar lagi dan yang perlu kulakukan adalah beristirahat sejenak sambil mengikat tali sepatuku kembali. Tidak perlu terburu-buru, karena perjalanan adalah sebuah proses dan tali sepatu yang terurai adalah bagian darinya.

Jadi, ketika suatu hari tali sepatumu terurai, beristirahatlah sebentar dan ikat kembali tali sepatumu. Jika suatu hari kamu telah selesai beristirahat dan tali sepatumu telah diikat rapi, artinya kamu siap melangkah untuk hari esok. Terima kasih karena sudah bersabar dan selalu mengikat kembali tali sepatumu.

5 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top