Suatu ketika kuyakini aku baik-baik saja tapi nyatanya tak seperti itu adanya. Aku diburu waktu yang terus mengejarku. Aku dihantui cemas, yang sebenarnaya tak pantas. Aku dibuntuti ketakutan yang kupikir menakutkan. Aku dicerca tanya yang sedang mencari cari dimana letak makna, awalnya.

Aku berkelana menyusuri tiap-tiap pemikiran yang sudah tenang, saat tanya sudah termaknai. Lalu aku kembali berkelana di pemikiran yang putus asa akan sebuah makna. Tujuanku selanjutnya ada pada tanya yang terlihat bahagia, tapi dapat kurasakan kekosongan yang dirasa. Kudapati tanya bersedih di sana. Saat aku sedang menyusuri, kutemukan makna itu di ujung jalan yang panjang. Tapi, makna itu terlihat mengenaskan dan juga kesepian. Aku berjalan ke arahnya lalu seraya bertanya, “Mengapa?” Makna itu terlihat senang saat melihat tanya di benakku. Lalu ia menunjuk segerombolan tanya yang kebingungan mencarinya, mencari makna. Tapi sepekian sekon kemudian, tanya itu ada yang berbalik arah, menghilang. Aku mengarahkan pandanganku kepada makna yang nampak sedih melihatnya.

Di seberang lainnya kulihat sebuah nama. Ia nampak bahagia. Aku ganti menghampirinya. Belum sempat aku bertanya dia sudah bicara, “namamu resah.” Aku terkejut mendengarnya. Bukan ini yang kuminta. Yang kucari adalah makna.

Sampai aku paham, tanya terlalu terburu-buru menamai dirinya. Dan melupakan makna yang ternyata senantiasa menunggunya. Kebanyakan tanya menamai, buakan memaknai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment