Katakan kepadaku tentang Hal Baik

Jalanan ini terlalu gelap, ada isak di setiap sudut dan sisinya, terlihat tidak mudah untuk melewatinya. banyak jiwa-jiwa yang terluka di setiap jejaknya.

Satu langkah kuambil sembari berkata, “Tak apa, bukan tugasmu untuk menjadi sempurna.”Kata ini kutujukan untuk pemuda yang menyesali kegagalannya.

Langkah lain kuambil, “Dirimu cantik, tak ada yang salah denganmu, cantik tak melulu soal fisik.” Yang ini kutujukan kepada wanita yang frustasi akan fisik yang ia punya.

Aku melangkah lagi, “Menangis bukan suatu kesalahan. Kita manusia, menangis juga bagian dari emosi yang kita punya, percayalah menangis bukan suatu dosa.” Kutujukan kepada lelaki yang termenung menahan isak dengan tangan terkepal kuat.

Sampai aku berada hampir pada ujung, kulihat seorang perempuan dengan mata sembap, tatapan kosong, dan luka yang ia bawa.

“Apa kamu baik-baik saja?” Tanyaku.

Ia menggeleng.

Aku bisa melihat dari kosong tatapannya, ia hampir kehilangan dirinya.

Namun, untuk kali ini entah mengapa sangat sulit untuk memberi semangat kepadanya, sangat sulit untuk berkata tentang hal baik kepadanya.

Lebih jeli kupandangi, kuperhatikan tiap gerak, postur, serta wajahnya.

Ah! Aku terperanjat, aku mengenali wajah ini, aku mengenal perempuan ini.

Ia yang selalu kujumpai saat aku becermin, yang selalu saja kulihat dari kekurangannya, yang tak pernah kuapresiasi perjuangannya, yang tak kuhargai tiap jerih payahnya, yang kutuntut untuk jadi sempurna.

Aku menyadari ia terluka. Kurasa, maaf yang paling pantas kulontarkan saat ini ialah kepada diri sendiri yang tanpa disadari selalu saja kusakiti.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top